SEPATU
Setiap hari sepulangnya kuliah aku tudak langsung pulang ke rumah tapi ke toko bahan kue untuk membeli pesanan mamahku yang sedang mencoba usaha lecil-kecilan bersama tanteku. Dari kampus ke toko bahan kue aku harus berjalan kaki melewati jalan trotoar yang gersang dan taman kota yang sejuk dan penuh dengan pohon yang rindang. Hari ini ketika rasa hausku memuncak rasanya terpadamkan oleh suasana yang dingin dan asri di kawasan taman kota. Tapi tunggu, aku merasa ada seseorang yang terus memperhatikanku dari tadi. Bukannya aku keGR-an tapi asli dia terus memperhatikaknku dari tadi. Dia berdiri di bawah pohon besar nan rindang, ketika aku lihat, dia langsung lari. Yang sempat ku liahat dia gadis berkerudung panjang agak kumal, sudahlah Cuma perasaanku saja. Dan tebak kawan hari ini seperti hari kemarin dia berada di sana dengan pandangan yang sama seperti kemari terbersit dalam pikiranku apa di penunggu pohon disana? Ahk tak mungkin dia menapakkan pijakkannya di atas tanah dan berjlbab panjang. Akh pasti ini cuma perasaanku saja.
Tapi kejadian ini terus kualami sampai 2 minggu. Aku pun ditarik ole perasaan penasaran yang luar biasa. Tapi tak apalah untuk 4 hari ini aku libur jadi tidak akan merasa diperhatikan berlebih oleh gadis berjilbab kumal itu.
Pagi ini aku kuliah pagi, pagi-pagi aku sudah berangkat ke kampus, setibanya di gerbang aku melihat gadis itu berdiri di gerbang dengan ekpresi yang datar, kali ini ku penuhi rasa ingin tahuku. Aku hampiri dia, belu 3 langkah dia sudah langsung lari dan naik angkot ketika dia melihatku. Pulangnya aku yakin dia pasti ada lagi di bawah pohon besar itu, tapi perkiraanku salah dia tidak ada disana. Aku tunggu dia selam 2 jam tapi tak terlihat juga gadis itu. Dan aku coba bertanya kepada bapak pedagang jagung rebus yang sering mangkal disana.
“Bhang tahuh hanak chewekh yhang sehering beherdiri di shini bhang?” Tanya ku sambil kewalahan memekan jagung yang panas
“anak cewek mah banyak atuh neng. Neng juga sekaran sedang berdiri disini.” Jawabnya tak tahu canda ataw bukan, garing banget kalau itu candaan.
Aku berhenti makan dan bertanya lagi pada si abang. “Eeeh si abang mah ditanya bener juga, iu lo bang gadis yang pake kerudung panjang yang sering berdiri di sini kira-kira jam seginian bang”
“Owh gadis aneh itu neng” beuk.
“Aneh bang? emang kenapa bang?”
“Jelas aneh atah nueng, dia teh bukan warga disini. Dia sering berdiri disini gak jelas ditambah lagi kayak orang yang stres neng”
“Terus abang tahu dia orang mana? Trus dia mu apa?” tanyaku bak wartawan di kejar terget
“EEmh klo gak salah namanya,,,em,, Tar,,,Tarsih. Eh bukan Mir…ris. Eh bukan Nar,,nar” si Abang menerka samnil mengerlingkan matanya
“ya udah bang gk pa-pa klo gak ingat mah. Abang tahu dia mu ngapain disini?”
“Kemaren sih para pedagang disini nanya dia mau apa disini?”
“Trus”aku menyambar pertanyaan si Abang saking penasarannya
“Katanya mau nyari temannya yang bernama Lani. Udah ah neng ni kembaliannya.”
Eeeh si Abang main pergi aja, tuh kan bener dia pasti kenel aku, tapi siapa dia? sungguh aku tidak tahu.
“Neng..neng kalo mau tahu rumahnya sini bareng abang! Abang tahu waktu kami mengantarkan gadis itu pulang sekalian abang mau nyoba dagang kesana” si Abang teriak dan itu penawaran yang sangat menarik.
Aku ikut bersama Abang tukang jagung rebus, dan akhirnya kami tiba di sebuah rumah petak yang sangat kecil, sangat pengap untuk tinggal lebih dari 3 orang. Si Abang langsung meneruskan jualannya dan aku coba untuk bertamu kerumah itu, siapa tahu rumah itu milik orang yang pernah dekat denganku
“Assalamualaiku,, ada orang” aku memberi salam lebih dari 3 kali tapi tidak ada sahutan. Mungkin penghuninya tidak ada di rumah, sementara jam di HPku sudah menunjukkan jam 5 sore. Aku duduk di kursi yang ada di depan rumah itu selang beberapa menit ada 2 gadis berjalan menuju rumah ini yang satu gadis berumuran kira-kira 15 tahun dan yang satunya lagi adalah gadis yang sering memperhatikanku beberapa hari ini. Dia langsung lari dan Ya Tuhan aku baru sadar kalau gadis itu pincang, dengan langkah yang tidak sempurna dia berlari sekuat tenaganya. Sedangkan gadis yang satunya lagi melihat dan teriak memanggil wanita tadi.
“Teh,, teteh mau kemana teh?teh kembali teh”
“Itu kakaknya ya? Biar mbak yang kejar ya?” tawarku
“Gak usah mbak nanti juga pulang, sudah biasa ko teteh kayak gitu. Mbak tamu ya? Ayo duduk mbak” sambil tersenyum dia menyambutku dengan baik
“Mbak siapa? Ada apa Ya?” gadis ini memulai pembicaraan
“Saya Lani Rukmana, saya kesini karena penasaran sama teteh kamu yang beberapa akhir ini sering saya lihat di taman kota” jawabku dengan semangat
Sentak wajah gadis itu berubah cemberut dan perlahan senyuman mengembang yang sangat manis
“Jadi mbak orangnya?” aku tak mengerti dengan senyuman dan pertanyaan gadis ini
“maksud ade?”
“Teteh saya selama 5 tahun ini sering bercerita tentang mbak. Nama teteh saya Tarmina” jawab gadis itu. Tarmina? Siapa Tarmina aku tidak begitu ingat dengan nama itu
“Bisa ade ceritakan apa yang di ceritakan teteh ade?” gadis itu terdiam sejenak dan terlihat ada kepedihan di anak ini, tapi dia tersenyum dan kembali bicara
“Mbak adalah teman satu regu teteh waktu Jambore dulu, entah mbak ingat atau tidak tapi teteh sangat mengingat mbak”
“Apa panggilan kakak ade Mina?”
“Ia mbak.” Jawabnya singkat
“Naah kalau Mina mbak ingat. Tapi kenapa Mina terlihat begitiu takut sama mnbak?”
Gadis ini kembali terdiam dan kembali bicara
“Dulu keluarga kami berkecukupan mbak, tapi setelah orang tua kami meninggal kami menumpang di rumah Uwa kami yang tidak ditinggali ini mbak. Sepeninggal Orang tua kami teteh sering sakit-sakitan, teteh sering panas dan dan muntah-muntah dan sekarang teteh jadi begitu kadang teriak gak jelas, kadang diam sampai 2 hari dan juga lupa sama ade.” Kasihan sekali mereka sungguh tak kuasa aku mendengarnya.
“Maaf de setahu teteh Mina dulu berjalan normal kenapa dia sekarang?”
“itu waktu kecelakaan dulu Ayah, Ibu, teteh dan aku pergi jalan-jalan namun taxi yang kami tunpangi kecelakaan dan kaki teteh terjepit dan tidak bisa berjalan dengan lancar. ”
“tunggu mbak masih belum mengerti kenapa Nina sampai ketakutan begitu sama mbak” aku penasran tak tertahan
“Waktu kecelakaan itu teteh sedang memakai sepatu mbak. Sepatu itu tertinggal di perkemahan dan diambil oleh tetah, dan teteh menganggap semua ini hukuman karena sudah mengambil sepatu itu.”
“Sepatu?”aku kebingungan tak mengerti. Gadis itu membawa sesuatu lumayan lama dari dalam, dan dia membawa sepatu walior berwarna hitam. SubhanAllah sepatu itu adalah sepatu hadiah dari nenek waktu aku berangkat Jambore dulu. Aku sempat kesal dan sedih ketika sepatu itu hilang.
“Sepatu ini dan nama mbak yang sering disebut teteh sambil ketekutan di pojok rumah sambil gemtaran”
Aku terdiam lama dan rasanya hatiku tawar tak berasa. Setelah berpamitan aku langsung pulang karena sudah malam dengan sepatu usang. Yang suda tak pernah aku pikirkan, Mina sungguh malang kau. Aku akan akan terus main ke rumahmu sampai kau tidak takut lagi padaku.



04.56
AKSARA


0 apresiasi:
Posting Komentar