1 Desember 2010

CRPN_PAA ELI SITI HALIMAH_Eisha Judul : Fatamorgana

Fatamorgana

Suara gemericik air, dedaunan hijau tertiup angin, angin yang hanya membawa kabar hampa, hambar tidak ada rasa. Di ruangan yang kecil di balik jendela dengan gorden merah merona ku termenung sendiri melihat awan-awan mendung di sekitarku sembari mengeluarkan air hujannya. Di waktu itu
ku teringat akan masa laluku
yang penuh dengan luka-liku kehidupan”.
Dengan bertambahnya usia ku semakin merasakan campur sarinya kehidupan ada sedih dan suka cita. Di waktu itu pula aku mencurahkan sesuatu yang pernah ku alami kepada yang ada di sekitarku.
Berawal dari sebuah perlombaan antar sekolah. Disana kutemukan pengalaman pertama yang begitu berkesan. Senang, gembira bercampur tegang dan takut ada di sana. Di ruangan yang begitu besar, dinding bercat putih berbagai kerajinan tertata rapi. Namun aku seolah duduk di kursi panas dengan dilingkupi kain hitam. Di saat itu tiba-tiba ada sosok pria dari belakangku bertanya padaku. “Hai! Bisa bantu saya gak??”tanyanya.  Dan aku pun kaget. Entah mengapa di waktu itu
“hatiku berdebar kencang seakan genderang akan dimulai, perang, ombak berdebur dan bergemuruh dengan keras”
“Emh..boleh…”ku jawab pertanyaan itu dengan pelan-pelan. Setelah berakhirnya  perlombaan , aku segera pergi dari luar ruangan dengan perasaan yang tidak menentu. Saat ku berjalan di lorong-lorong ruangan berhiaskan lukisan, dengan ornamen-ornamen indah nan menawan. Bunga harum semerbak tertata rapi disertai suratan slogan-slogan untuk motivasi belajar.
Semilir angin menghempas tubuhku dengan membawa suara seorang murid laki-laki. “Hai!!Tunggu…!!’’kata laki-laki itu. Entah mengapa perasaan tadi terulang kembali. “Emh..boleh kenalan gak??” Dia memulai pembicaraan. “Boleh!!”Ku jawab dengan singkat, padat dan gugup atau gemper (dalam bahasa Sunda).”Siapa namamu? Bisa minta nomer handphone dan alamat facebook?”. Ku jawab dengan segera “Namaku Riska, nomer handphonenya 085223833472, alamat facebooknya eizha47@yahoo.com”. Dia pun langsung menjawab dengan segelintir senyuman diiringi lesung pipitnya yang indah  “Namaku Adly tanpa Fairuz, aslinya Adly Rahmanto”. Di kala mentari tenggelam kupandangi mega merah di senja hari yang akan menggantikan putaran waktu. Tak terasa sekian lama kita berkenalan sayangnya cinta tak pernah terucap antara kita. Selepas hitungannya mega-mega merah dari pandanganku. Kuberkata “Mungkinkah itu sebenarnya?”. Seribu pertanyaan kulemparkan dalam dekapan asmara dan cinta, dimana cinta kita yang suram dalam kegelapan, kesunyian malam. Ingin mencari kepastian darimu walau gelap malam menutupi hati dan jiwaku. Dalam mimpi pun kita tetap membisu seribu bahasa mungkin kita yang tak mau mengakui bahwa cinta itu ada?
            Di hari Minggu nan cerah, dia mengajak Pedekate (bahasa gaulnya) di sebuah taman kota yang resik dan hijau. “Selama ini sudah lama saya memendam rasa ini, dan sekarang saya akan melemparkan satu kalimat ke atas langit menembus awan terbang bersama jutaan malaikat. Satu kalimat dilesapkan ke dasar laut memecah ombak berenang bersama ikan-ikan kecil. Satu kalimat yang dikirimkan ke puncak gunung menerobos hutan berlari bersama kuda dan singa, bahwa aku suka padamu, kalau dalam bahasa Mbah Suripnya I love You Full dech..”Adly berkata begitu tenang. ”Tapi bagaimana denganmu??” Dia langsung bertanya. Karena dengan gugup dan kagetnya, aku tak langsung menjawab pertanyaan itu. Aku langsung pergi dengan wajah gugup.
            Sejak rasa itu hadir dalam diriku kau memberi warna dalam jiwaku. Namamu telah tertanam dalam lubuk hatiku. Di malam yang begitu sunyi aku tak dapat tidur karenamu. Tak musnah senyumanmu dari ingatanku, tatap matamu tak pernah padam tak henti aku memikirkanmu. Wahai angin malam sampaikan rinduku, bantu aku untuk menyatakannya bahwa aku juga mencintainya.
            Entah mengapa aku tak ingin jauh darimu, bayangmu kan selalu ada menemani dalam setiap langkahku di setiap saat di setiap waktu. Di saat aku susah kau selalu ada, di saat aku tersudut kau selalu membelaku. Sungguh dirimu yang selalu mengerti aku. Dan hanya dirimu yang selalu ada di hari-hariku. Kau isi hari-hari dengan ceria hingga ku tak pernah mengenal kesedihan dalam hidupku. Kau ajari aku segala sesuatu yang aku tak mengerti. Walaupun kau jauh dariku aku hanya ingin kau tahu hanya dirimulah yang mengerti aku dan hanya dirimulah kekasihku. Setelah lama aku mengenalmu dengan satu nama, memahamimu dengan satu renungan, mengingatmu dengan satu kenangan, menyayangimu dengan penuh perasaan. Ku berharap hubungan ini tak akan retak oleh aral melintang atau sesuatu apapun yang dapat merobohkan benteng pertahanan cinta.
            Namun hidup ini memang tak selamanya indah, prahara pun datang menimpa cinta kami. Dengan kehadiran sosok perempuan yang merupakan orang ketiga akhirnya dapat meluluhkan hatinya yang membuat mereka menjalin suatu hubungan dengan menyelinap di belakangku dengan membuka kisah lama mereka. Perasaan cemas atas dasar cemburu, perasaaan benci atas dasar kesepian. Hanya ini bentuk ungkapan rasa yang dapat kau lihat dalam diriku. Tak berani ku ungkap cinta kepadamu karena kekecewaan yang telah menoleh luka dalam hatiku. Kini ku hanya dapat membiarkan akar cintanya tumbuh subur dalam jiwa mereka. Kau takkan pernah tahu dan takkan pernah kuberi tahu bahwa aku disini tetap menyayangimu, karena cintaku sudah tenggelam di lautan, pengorbanan hanya untuk berenang ke dasar hatimu.
“Sungguh terkoyaknya hatiku, duri-duri menancap di tubuhku, parang besi menggores luka, pistol siaga membidikku, harimau siap menerkam, hatiku galau apa semua akan berakhir?”
 Tidak! Di sana, di langit senja satu dari berjuta bintang melambai ke arahku dengan menyerukan satu kata yang tak ku pahami, bulan di sana tersenyum padaku menyiratkan satu makna tak tentu, di ufuk timur sang surya berkata bahwa aku tidak boleh putus asa. Tetapi aku menangis, merintih mungkin tiada arti lagi aku hidup, biarlah badai dan gelombang laut menenggelamkan aku hingga aku terbangun nanti. Aku menjerit ke atas langit menembus awan-awan ternyata selama ini kesetiaan dan kasih sayang yang aku berikan hanyalah sia-sia tiada arti. Ku ingin mencabut benalu itu dari tanamanku dan akan ku buang jauh-jauh ke seberang sana sehingga tak akan pernah kembali.
            Sesaat itu datang seorang sahabat baikku, Tina namanya. Dia selalu memberikan petuahnya yang selalu terngiang-ngiang
”bahwa milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci, sebuah senyuman yang tak pernah pudar, sebuah sentuhan yang tak akan pernah menyakiti dan sebuah kisah yang tak akan pernah berakhir”.
Dan aku pun selalu menjawab “Tina, terima kasih, kau banyak mengajariku kesabaran, kau orang yang selalu ada saat aku sedih, semua kebaikanmu kan selalu ada dan ku simpan serta ku abadikan di hatiku”.
            Di suatu hari Tina datang ke rumahku, tapi tidak seperti biasanya, Tina selalu membawa wajah yang riang tapi kini dia membawa wajah yang kusut. Benar perkiraanku Tina membawa kabar berita tak sedap, menusuk jantung hati, petir siang hari menyambar, begitu sakit sayatan sebelah pedang mengkoyak-koyak tubuhku bahwa Adly telah mengalami kejadian yang begitu mengerikan hingga kau meninggalkanku untuk selamanya. ”Apakah kau tak berbohong?? Aku bertanya dengan rasa keraguan”. “Kau harus menerimanya dengan ikhlas, ya Riska?? Aku yakin kamu adalah orang yang sabar” Tina berkata dengan lemah lembut”. Yakinlah bahwa batin ini menangis saat ku lepaskan genggaman tanganmu, kini semua berakhir sudah. Ku tak mungkin bisa merasakan kasihmu. Berapa lama ku harus menangis atas pengorbanan cinta, raga dan nyawa? Karena kau ku hidup, karena kau ku menangis. Kenapa kau larang nyawa ku tuk pergi? Kenapa kau biarkan waktu yang mengambil alih hidupu? Apakah cinta dan nyawa adalah musuh? Tetapi kau hanya diam dan diam tak ada jawaban. Jangan harap sepiku ini kan berujung. Aku bukan pengemis kebahagiaan, aku ingin kau kembali ke hadapanku tanpa suatu syarat tapi karena ketulusan dan kata maaf yang ku harap darimu. Apakah aku harus terbang ke duniamu? Agar dapat melihat seuntai senyuman tuk yang terakhir. Kau yang begitu mewarnai hidupku, jiwa selangkah kan bahagia seandainya dirimu tetap di pelukku.
“Tetapi kini sudah tak terlihat lagi oleh pelupuk, tak terdengar lagi oleh telinga dan melambai jauh melalui perasa”.
Saat ini yang kurasakan hanya pedih, sedih dan nyeri. Kemana harus ku cari dirimu yang hilang. Kemana hatimu yang dulu penuh dengan namaku. Kemana sorot elangmu yang bertumpuk oleh senyumku, dan kemana alunan suaramu yang mendayu?
            Di pagi yang dingin ku termenung melihat awan. Dalam kesunyian pagi ku tersadar bahwa cinta tak harus memiliki, cinta tak bisa dipaksa dan karena terpaksa. Cinta itu adalah keikhlasan dan kepasrahan kasih sayang. Cinta itu suci, tulus, putih dan bening. Cinta itu bukan permainan dan juga bukan bahan objekan. Dan akhirnya ku tersadar bahwa selalu hanya Engkau pada akhirnya menuntunku dalam gelap tak berjarak, dingin  angin meremuk tulang. Tuhan….aku pada pihakmu, selalu pada pihakmu. Ku tersadar ku telah jauh dan jauh darimu. Kata-kata terbentur di lidah hanya terbentur di lidah, kata-kata tak mengaliri hati, hati telah kosong didera petaka. Mengapa keinginan kerap berpihak pada bencana, menistakan rintih kalbu sebegitu jauh aku enyah darimu. Tuhan…..jangan pergi dariku dan jangan tinggalkan aku. Isyarat-isyarat telah dinyalakan pada belalak mata dan nganga jiwa. Wajahku membentur bias terang silau hatiku alam rahmatMu di sini dan di mana pun pada akhirnya hanya engkau yang setia menemaniku.
“Tuhan….aku sujud padamu hanya padamu”
 Dengan berhentinya turun air hujan ku tersadar bahwa aku harus melihat ke depan untuk menjadi yang lebih baik.

0 apresiasi:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys