MERAH
Bibir ini tersenyum lebar, mata ini memancarkan perasaan riang yang masih malu – malu untuk menampakan dirinya lewat tingkah laku ku, tangan ini menggenggam erat berjuta cita – cita dan berjuta ilmu yang masih rapih tersimpan di antara helaian – helaian kertas, kaki ini seakan tak sabar ingin segera berlari mengikuti senyuman mentari pagi yang menemaniku pergi ke tempat menimba ilmu.
Langit yang cerah seolah menangis, suasana pagi yang ceria kini berubah murung, turunlah hujan, membasahi seluruh jalan – jalan di seluruh kota, air mnggenang di selokan – selokan dan jalan raya yang sudah rusak. “Akhh, aku jadi tak semangat meneruskan perjalananku, tak seperti dulu, aku yang selalu ditemani oleh sahabat dekatku” Bayang – bayangnya pun mulai senang untuk pergi jalan – jalan ke masa lalu. Tiba – tiba di belokan jalan dekat Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Tasikmalaya “creeetttt” air kotor yang menggenang di jalan – jalan yang rusak mengenai pakaian ku, “Astagfirullah, sungguh tidak hati – hati sekali pengendara motor yang memakai helm merah itu.” Dengan sangat marah aku terus saja menggerutu sendiri. Aku tak menghiraukannya lagi, meskipun pakaian ku basah dan kotor terkena cipratan air itu. Langkah kakiku semakin pelan, muka ceriaku yang tadi berseri – seri seketika berubah menjadi lusuh tak bersemangat, semakin sempurna dengan dilengkapi oleh langit yang muram, kusam, dan gelap berawan. Tetesan air mulai turun satu persatu. “auu” akupun menengadah ke atas, memandangi langit yang mulai menagis lagi, ternyata tangisannya kini tak bisa dibendung lagi. “Hujannya semakin dera!, ayo segera berteduh!!” seseorang dari arah depan pintu gerbang mengajaku untuk berteduh di dekat ruangan seni. Aku segera begegas menuju kesana tanpa menghiraukan siapa orang yang berbicara tadi, sampailah aku di hadapannya, lau iapun begeser ke sebelah kanan, hujan yang semakin deras telah menjebak ku di tempat itu, aku terus memandangi air hujan yang turun dan menyatu, melebur dengan air kolam yang berada di pinggir ruanggan seni tersebut, aku terus memperhatikannya. Dalam hati aku berbicra, aku merenung “Sungguh Maha Kuasanya Sang Maha Pencipta, Dia telah menciptakan berbagai macam keindahan di muka bumi ini, hebat sekali air hujan yang telah melakukan perjalanan panjang dari langit yang sangat tinggi yang jaraknya tak terhingga,merasakan atmosfer alam yang berbeda, berbenturan dengan temannya, berbenturan dengan daun, pohon, bunga, bahkan bangunan yang kejam sekalipun, lalu sampailah dia di suatu tempat yang sebelumnya tidak dia ketahui, ya....seperti air yang ada di hadapanku ini, dia tak pernah mengira bahwa dia akan bertemu denagn air hujan yang berbeda, setelah sebelumnya diapun telah bertemu dengan air - air hujan yang sama jenis dan penyusunnya yaitu dari molekul – molekul air, Subhanallah betapa Maha Kuasnya Allah itu”. Aku menoleh ke arah orang yang berada di pinggir ku tadi, ku lihat dia sedang memandangi air hujan yang jatuh ke kolam yang sama, tapi entah apa yang ada di pikirannya sekarang, mungkinkah dia sedang memikirkan hal yang sama sepertiku?, tapi setiap manusia yang sedang mengamati objek yang sama, tidak selalu apa yang dia maknai sama dengan orang lain, meski orang tersebut ada di dekatnya, karena tidak ada yang tahu sedikitpun apa isi dari setiap hati manusia, dan tidak ada yang tahu satupun apa yang sedang dibayangkan oleh setiap pikiran manusia. Hujan semakin reda, akupun mulai beranjak dari tempat itu, tapi dari awal sampai sekarang aku akan meninggalkan tempat tersebut, aku tak berani melihat wajah orang yang berada di sampingku dengan seksama. Saat aku menolah ke arahnya tadi, aku merasa pernah kenal dengan orang tersebut, tapi sudahlah aku tak mau peduli, aku harus pergi, aku harus segera kuliah. “Aku ke kelas duluan yah!, terimakasih.” Sungguh anehnya diriku ini, aku hanya mengucapkan kalimat tersebut sambil tersenyum, tapi dia tetap tertunduk memandangi air hujan yang jatuh ke kolam sambil berkata “iya silahkan, sama – sama”.
Di sela – sela waktu luang, aku bercerita tentang apa yang ku alami tadi pagi kepada temanku yang bernama Indah, ya namanya Indah dan bagiku dia juga teman terindah yang selama ini aku temui, memang bukan suatu kebetulan, karena tidak ada yang kebetukan di muka bumi ini meskipun hanya sehelai daun kering yang jatuh kebumi. “Indah” sapaku padanya, “Iya, Dewi...ada apa?, ada yang mau kamu sharingkan dengan ku?, aku sudah menunggunya dari sejak tadi, akau tak berani mengajak mu sahring karena ku lihat wajahmu begitu lusuh, kamu kenapa? ada masalah yah?” wajah yang cantik dengan dihiasi senyuman yang manis kulihat di hadapanku, biasanya aku langsung bersemangat jika Indah mengajaku untuk berbagi, tapi kali ini aku kurang mersepon baik keramahannya. “Dah, pernahkah kamu bertemu dengan seseorang lalu kamu merasa bahagia bersamanya, tapi di suatu saat dia harus pergi meninggalkanmu, dan yang membuat rumit setelah kamu berpisah dengannya, kamu bertemu lagi dengan seseorang yang hampir semua kepribadiannya mirip dengan orang yang pergi meninggalkanmu?” aku tak sadar ternyata aku telah banyak bertanya pada Indah, tapi dengan ramahnya Indah menjawab semua pertanyaanku dengan singkat. “Aku akan tetap mengenang orang yang pernah membuatku bahagia, mski kini dia pergi jauh dariku, dan disaat aku menemui orang yang hampir mirip dengannya sehingga aku teringat kembali dengan orang yang pernah meninggalkanku, aku akan tetap menerima orang sebagai seseorang yang berbeda dari orang yang pernah ku temui sebelumnya, meski itu sangat mirip, karena seberapa persisnya kepribadian seseorang dengan orang lain, tetapi yang sebenarnya kepribadian sorang individu itu tidak ada yang sama atau sejenis dengan individu lain. Dalam keheningan malam bayang – bayangku terbang jauh menerawang ke angkasa “Orang itu, orang itu, orang yang tadi pagi ada di sebelahku , bersamaku, terdiam membisu sambil menatap tetesan air hujan yang menyatu dengan air kolam kecil itu, dia....dia.... seperti orang yang memakai baju merah yang tadi saat mengendarai motor memakai helm merah yang telah membuat pakaian ku kotor, benar sekali......aku mengenal orang tersebut,,,jangan – jangan ...............................??
Dia adalah orang yang dulu pernah membuat hatiku berubah indah bagaikan warna merah jambu, yang telah membuatku tersipu malu dihadapannya sehingga pipiku berubah menjadi merah merona, yang telah memberiku kenangan yang sampai kini akau simpan di kamarku meski telah layu, kering termakan waktu yaitu sekuntum mawar merah yang begitu indah, dan kini dia tiba – tiba datang mewarnai hariku dengan suasana yang berbeda, bisakah aku menyesuaikan diri kembali untuk berteman baik kmbali dengannya?, apakah aku menghindar saja?, akhhh masa aku kalah oleh air hujan dan air kolam tadi yang begitu berahaba, menyatu meskipun mereka tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa mereka air kolam akan bertemu dengan air hujan yang sebelumnya belum pernah ia kenal dan temui, sedangkan aku...aku pernah bertemu dengan laki - laki berbaju merah itu dan bahkan aku pernah menjalin ubungan baik dengannya.
Aku harus sadar, aku tidak boleh memutuskan silaturahmi dengannya, semoga saja kini dia akan terus memberikan kesan merah dalam hidupku, kobaran api semangatnya yang berkobar - kobar merah membara, terus semangat, maju tak kenal putus asa dalam menjalalni hidup bak arti dari warna merah yang berani.



05.01
AKSARA


0 apresiasi:
Posting Komentar