1 Desember 2010

CRPN_PAA Rina Kurnia Novianty_ViNia

MERAH

Kicauan burung bernyanyi bersamaku, mengikuti alunan dawai – dawai yang merdu. Angin mengajakku dan bunga – bunga untuk berdendang mengikuti hembusannya yang lembut.  Suasana pagi yang cerah di suatu kota kecil yang megah.
Bibir ini tersenyum lebar, mata ini memancarkan perasaan riang yang masih malu – malu untuk menampakan dirinya lewat tingkah laku ku, tangan ini menggenggam erat berjuta cita – cita dan berjuta ilmu yang masih rapih tersimpan di antara helaian – helaian kertas, kaki ini seakan tak sabar ingin segera berlari mengikuti senyuman mentari pagi yang menemaniku pergi ke tempat menimba ilmu.
Langit yang cerah seolah menangis, suasana pagi yang ceria kini berubah murung, turunlah hujan, membasahi seluruh jalan – jalan di seluruh kota, air mnggenang di selokan – selokan dan jalan raya yang sudah rusak. “Akhh, aku jadi tak semangat meneruskan perjalananku,  tak seperti dulu, aku yang selalu ditemani oleh sahabat dekatku” Bayang – bayangnya pun mulai senang untuk pergi jalan – jalan ke masa lalu. Tiba – tiba di belokan jalan dekat Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Tasikmalaya “creeetttt” air  kotor yang menggenang di jalan – jalan yang rusak mengenai pakaian ku, “Astagfirullah, sungguh tidak hati – hati sekali pengendara motor yang memakai helm merah itu.” Dengan sangat marah aku terus saja menggerutu sendiri. Aku tak menghiraukannya lagi, meskipun pakaian ku basah dan kotor terkena cipratan air itu. Langkah kakiku semakin pelan, muka ceriaku yang tadi berseri – seri seketika berubah menjadi lusuh tak bersemangat, semakin sempurna dengan dilengkapi oleh langit yang muram, kusam, dan gelap berawan. Tetesan air mulai turun satu persatu. “auu” akupun menengadah ke atas, memandangi langit yang mulai menagis lagi, ternyata tangisannya kini tak bisa dibendung lagi. “Hujannya semakin dera!, ayo segera berteduh!!” seseorang dari arah depan pintu gerbang mengajaku untuk berteduh di dekat ruangan seni. Aku segera begegas menuju kesana tanpa menghiraukan siapa orang yang berbicara tadi, sampailah aku di hadapannya, lau iapun begeser ke sebelah kanan, hujan yang semakin deras telah menjebak ku di tempat itu, aku terus memandangi air hujan yang turun dan menyatu, melebur dengan air kolam yang berada di pinggir ruanggan seni tersebut, aku terus memperhatikannya. Dalam hati aku berbicra, aku merenung “Sungguh Maha Kuasanya Sang Maha Pencipta, Dia telah menciptakan berbagai macam keindahan di muka bumi ini, hebat sekali air hujan yang telah melakukan perjalanan panjang dari langit yang sangat tinggi yang jaraknya tak terhingga,merasakan atmosfer alam yang berbeda, berbenturan dengan temannya, berbenturan dengan daun, pohon, bunga, bahkan bangunan yang kejam sekalipun, lalu sampailah dia di suatu tempat yang sebelumnya tidak dia ketahui, ya....seperti air yang ada di hadapanku ini, dia tak pernah mengira bahwa dia akan bertemu denagn air hujan yang berbeda, setelah sebelumnya diapun telah bertemu dengan air - air hujan yang sama jenis dan penyusunnya yaitu dari molekul – molekul air, Subhanallah betapa Maha Kuasnya Allah itu”. Aku menoleh ke arah orang yang berada di pinggir ku tadi, ku lihat dia sedang memandangi air hujan yang jatuh ke kolam yang sama, tapi entah apa yang ada di pikirannya sekarang, mungkinkah dia sedang memikirkan hal yang sama sepertiku?, tapi setiap manusia yang sedang mengamati objek yang sama, tidak selalu apa yang dia maknai sama dengan orang lain, meski orang tersebut ada di dekatnya, karena tidak ada yang tahu sedikitpun apa isi dari setiap hati manusia, dan tidak ada yang tahu satupun apa yang sedang dibayangkan oleh setiap pikiran manusia. Hujan semakin reda, akupun mulai beranjak dari tempat itu, tapi dari awal sampai sekarang aku akan meninggalkan tempat tersebut, aku tak berani melihat wajah orang yang berada di sampingku dengan seksama. Saat aku menolah ke arahnya tadi, aku merasa pernah kenal dengan orang tersebut, tapi sudahlah aku tak mau peduli, aku harus pergi, aku harus segera kuliah. “Aku ke kelas duluan yah!, terimakasih.” Sungguh anehnya diriku ini, aku hanya mengucapkan kalimat tersebut sambil tersenyum, tapi dia tetap tertunduk memandangi air hujan yang jatuh ke kolam sambil berkata “iya silahkan, sama – sama”.
            Di sela – sela waktu luang, aku bercerita tentang apa yang ku alami tadi pagi kepada temanku yang bernama Indah, ya namanya Indah dan bagiku dia juga teman terindah yang selama ini aku temui, memang bukan suatu kebetulan, karena tidak ada yang kebetukan di muka bumi ini meskipun hanya sehelai daun kering yang jatuh kebumi. “Indah” sapaku padanya, “Iya, Dewi...ada apa?, ada yang mau kamu sharingkan dengan ku?, aku sudah menunggunya dari sejak tadi, akau tak berani mengajak mu sahring karena ku lihat wajahmu begitu lusuh, kamu kenapa? ada masalah yah?” wajah yang cantik dengan dihiasi senyuman yang manis kulihat di hadapanku, biasanya aku langsung bersemangat jika Indah mengajaku untuk berbagi, tapi kali ini aku kurang mersepon baik keramahannya. “Dah, pernahkah kamu bertemu dengan seseorang lalu kamu merasa bahagia bersamanya, tapi di suatu saat dia harus pergi meninggalkanmu, dan yang membuat rumit setelah kamu berpisah dengannya, kamu bertemu lagi dengan seseorang yang hampir semua kepribadiannya mirip dengan orang yang pergi meninggalkanmu?” aku tak sadar ternyata aku telah banyak bertanya pada Indah, tapi dengan ramahnya Indah menjawab semua pertanyaanku dengan singkat. “Aku akan tetap mengenang orang yang pernah membuatku bahagia, mski kini dia pergi jauh dariku, dan disaat aku menemui orang yang hampir mirip dengannya sehingga aku teringat kembali dengan orang yang pernah meninggalkanku, aku akan tetap menerima orang sebagai seseorang yang berbeda dari orang yang pernah ku temui sebelumnya, meski itu sangat mirip, karena seberapa persisnya kepribadian seseorang dengan orang lain, tetapi yang sebenarnya kepribadian sorang individu itu tidak ada yang sama atau sejenis dengan individu lain. Dalam keheningan malam bayang – bayangku terbang jauh menerawang ke angkasa “Orang itu, orang itu, orang yang tadi pagi ada di sebelahku , bersamaku, terdiam membisu sambil menatap tetesan air hujan yang menyatu dengan air kolam kecil itu, dia....dia.... seperti orang yang memakai baju merah yang tadi saat mengendarai motor memakai helm merah yang telah membuat pakaian ku kotor, benar sekali......aku mengenal orang tersebut,,,jangan – jangan ...............................??
Dia adalah orang yang dulu pernah membuat hatiku berubah indah bagaikan warna merah jambu, yang telah membuatku tersipu malu dihadapannya sehingga pipiku berubah menjadi merah merona, yang telah memberiku kenangan yang sampai kini akau simpan di kamarku meski telah layu, kering termakan waktu yaitu sekuntum mawar merah yang begitu indah, dan kini dia tiba – tiba datang mewarnai hariku  dengan suasana yang berbeda, bisakah aku menyesuaikan diri kembali untuk berteman baik kmbali dengannya?, apakah aku menghindar saja?, akhhh masa aku kalah oleh air hujan dan air kolam tadi yang begitu berahaba, menyatu meskipun mereka tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa mereka air kolam akan bertemu dengan air hujan yang sebelumnya belum pernah ia kenal dan temui, sedangkan aku...aku pernah bertemu dengan laki - laki berbaju merah itu dan bahkan aku pernah menjalin ubungan baik dengannya.
Aku harus sadar, aku tidak boleh memutuskan silaturahmi dengannya, semoga saja kini dia akan terus memberikan kesan merah dalam hidupku, kobaran api semangatnya yang berkobar - kobar merah membara, terus semangat, maju tak kenal putus asa dalam menjalalni hidup bak arti dari warna merah yang berani.



CRPN_PAA Riga Zahara

DI BALIK JENDELA ITU DIA MEMANDANG

Hari-hariku kini tak seindah dulu. Semenjak aku pindah ke rumah baru ini aku merasa sedikit risih dengan lingkunganya. Entah kenapa aku merasa ada yang hilang dalam jiwaku. Aku dilahirkan di daerah pedesaan yang lingkungannya sejuk, tentram, asri, dan damai. 15 tahun sudah aku tinggal bersama orang-orang di desa yang aku cintai. Tapi karena ayahku di pindah tugaskan di perkotaan kami sekeluarga terpaksa harus ikut ke kota.Satu minggu sudah kami tinggal di rumah ini. Minggu depan aku mulai menginjakkan kakiku di bangku Sekolah Menengah Atas. Aku masih belum tahu terlalu banyak tentang lingkungan baruku ini. Hampir setiap sore aku diajak jalan-jalan oleh ayahku untuk mengenal daerah ini. Aku fikir lebih nyaman tinggal di desa daripada di kota. Kalau ada warga baru di desa biasanya kami selalu mengajak mereka mengenal daerah kami dan kami sesama tetangganya selalu mengunjungi rumahnya agar mereka tidak merasa kesepian dan betah tinggal di daerah kami. Tapi kalau disini berbeda, para tetangga seolah acuh tak acuh dengan kami. Bahkan tetangga depan rumah kami saja kami tidak mengetahui siapa saja penguhinya.Hari ini aku mulai masuk sekolah. Karena ini adalah hari pertama, aku di antar oleh ayahku ke sekolah. Setelah daftar ulang dan mendapatkan kelas aku mulai berkenalan dengan teman sekelasku.
“hei, aku Nina, kamu siapa?”
“hei, aku Rani, kamu dari SMP mana?”
“aku dari SMP Tarakan Nusa, kamu?”
“Tarakan Nusa? Daerah mana tu? Aku baru denger”
“daerah Bojong Nusa”
“owh , kamu bukan asli orang sini?”
“iya, aku baru pindahan 2 minggu yang lalu dari daerahku”
“rumahmu yang sekarang dimana?”
“Damri”
“wah masa? Rumahku juga disana, ayahmu polisi juga?”
“iya, rumah kamu sebelah mana?”
“aku blok B no 4, kamu?”
“aku blok C no 5”
“wah rumah kita deketan ya? tadi kamu berangkat dianter siapa”
“aku dianter ayah aku, kamu?”
“aku di anter ibu, ayahku lagi dinas keluar kota, nanti kita pulang bareng ya”
“ok”
Hari pertama sekolah aku sangat menikmatinya. Banyak teman baru yang ku temui disini, salah satunya Rani. Rani begitu baik padaku. Dia banyak bercerita tentang kota baruku ini. Ternyata Rani adalah anak tunggal dan dia sangat di manja oleh kedua orang tuanya, terutama ayahnya.
Karena hari ini adalah hari pertama sekolah, kami hanya perkenalan saja. Besok kami sudah mulai belajar efektif. Akupun pulang dengan teman baruku, Rani.
Cuaca di sore hari terasa begitu sejuk, akupun membuka jendela kamarku yang mulai berdebu karena sudah lama tak dibersihkan oleh si empunya. Debu terasa begitu menyesakkan dadaku. Akupun membersihkan jendela itu dengan peralatan seadanya. Aku memang belum pernah membersihkannya semenjak aku pindah ke rumah ini.
Di balik jendela seberang sana aku melihat ada sesosok laki-laki yang memandangiku dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dia lihat. Tapi dia melihatku dan isi kamarku dibalik jendela kamarnya. “Laki-laki itu cakep juga”, fikirku. Akupun memandanginya dengan perasaan heran dan penuh tanda tanya.
“Nina,,,!!!”
Ibu memanggilku dan segera aku menghampirinya.
“ya bu”
“bantu ibu masak buat makan malam ya”
“kenapa gak nyuruh kak Lastri aja bu, Nina kan gak bisa masak”
“kamu kaya yang gak tau kerjaan kakak kamu itu aja, tiap hari dia kerjaannya cuma ngurusin game aja, padahal umurnya itu udah 23 tahun, masih aja kelakuannya kaya anak SD”
“hmm, gimana ya?”
“gimana apanya? Ayo cepet bantu ibu,,!!!”
“ok deh,,,”
Akupun dengan terpaksa membantu ibu sambil memasak di dapur walaupun sebenarnya aku sanagat malas dengan pekerjaan ini, tapi ya mau gimana lagi? Huft…
Aku teringat dengan lelaki di balik jendela itu, akupun memberanikan diri bertanya pada ibu,
“bu, tetangga depan rumah kita itu kok gak pernah berkunjung ke rumah kita ya bu?”
“entahlah, ibu juga tak tau”
“bu, keluarga itu aneh sekali ya, mereka kaya yang gimana,,,,gitu”
“gimana apanya?”
“ya mereka aneh”
“hus, jangan ngomong sembarangan kamu, entar kalau mereka denger gimana?”
Akupun terdiam. Tapi aku masih tetap penasaran dengan lelaki yang memandangiku tadi. Aku merasa dia itu sangat aneh.
Pagi harinya aku bertemu dengan Rani ketika hendak berangkat sekolah. Hari ini aku berangkat sendiri. Aku bercerita tentang lelaki yang kemarin sore terus memadangiku dengan aneh itu. Rani tak bicara apa-apa tentang hal itu, dia hanya tersenyum mendengar ceritaku. Aku merasa ada yang aneh, tapi apa?entahlah, aku tak mau lagi memikirkan lelaki aneh yang memandangiku itu.
Seusai pulang sekolah aku aku langsung merebahkan tubuhku di kamar. Hari ini terasa begitu melelahkan, tapi sanagat mengasyikan juga. Hari pertama aku belajar memakai baju putih abu, sungguh luar biasa.
Akupun tertidur dengan pulasnya. Saat ku terbangun, aku membukakan jendela kamarku agar udara sore yang sejuk dapat memasukai kamarku. Saat ku buka jendela, aku melihat lagi pemuda itu memandangi kamarku. Aku melihat kebelakang takut-takut ada yang aneh di kamarku. Aku mencoba tersenyum padanya, tapi dia tak membalas, dia hanya berpaling dan menutup jendelanya dengan cukup keras. Dia memang aneh.
Kejadian itu berulang hampir setiap sore hari. Disaat aku membuka jendela di sore hari, pasti saja aku melihat ada dia di balik jendela kamarnya memandang ke jendela kamarku. Aku merasa semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
Pada suatu ketika, aku bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sedang belanja keperluan dapurnya di warung sebelah. Akupun menghampirinya seraya memberanikan diri bertanya padanya.
“selamat pagi bu”
“pagi, ada apa ya?”
“perkenalkan bu, saya penghuni baru disini, rumah kita tetanggaan tapi kita kok sama-sama belum saling mengenal ya bu?”
Ibu itu terasa terganggu oleh kedatangan saya, diapun mnejawab dengan cueknya,
“owh, kamu pengisi rumah kumuh itu ya? bilang saja sama orang tuamu kalau punya anaka gadis jangan keganjenan gitu”
“maksud ibu?”
“emm, ah sudahlah itu bukan urusan kamu, cepat kamu pergi!!”
“iya bu maaf saya sudah mengganggu ibu”
Di sore harinya aku meliahat kejadian yang sama. Seorang lelaki di balik jendela itu memandang kamarku. Tapi entah mengapa kali ini dia tersenyum padaku. Akupun membalas kembali senyumnya.
Aku menceritakan semua kejadian kemarin kepada Rani, tentang respon ibu-ibu yang membentakku dan menyuruhku pulang, serta laki-laki yang di balik jendela yang tersenyum padaku.
Rani masih tetap pada pendiriannya. Dia tak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah yang menurut saya “aneh” itu. Akhirnya dengan sedikit paksaan Rani mau berbicara padaku.
“Nina,baiklah  kalau kamu mau tahu aku akan menceritakan semuanya padamu”
Aku diam sejenak sambil menunggu apa yang selanjutnya akan di katakan oleh Rani.
“lelaki itu namanya kak Edo, dulu kak Edo banyak disukai orang, selain dia cakep, jago maen basket, dia juga supel, pokoknya T.O.P.B.G.T dech, banyak banget cewek yang suka ama dia, tapi entah kenapa dia itu suka sama kak Risma yang sebenernya dia tuh bisa di bilang gak selevel ama kak Edo”
Rani diam sejenak sambil menghela nafas panjang.
“terus kenapa kak Edo jadi kayak gitu?”
“aku jadi ngeri ceritanya”
Rani sepertinya tak sanggup lagi untuk bercerita. Tapi aku semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Rani, ayo donk cerita,,!!!”
“keluarga kak Edo gak setuju kalo kak Edo nikah sama kak Risma karena mereka tuh gak selevel, makanya mereka kawin lari dan kabur dari rumah. Di tengah perjalanan mereka kecelakaan dan kak Risma meninggal di tempat dengan mengenakann gaun pengantinnya, sementara waktu itu kak Edo masih bisa di selamatkan tetapi mentalnya tergantu, mungkin karena ia masih shok istrinya meninggal di hari pernikahan mereka”
Aku terdiam sesaat mendengar apa yang baru saja Rani katakan padaku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau lelaki itu secara tidak langsung telah “membunuh” istrinya di hari pernikahan mereka.
“terus apa hubungannya dia ngeliatin kamar aku terus?”
“kamar kak Risma itu kamar kamu sekarang Nin, karena ortu mereka gak setuju dengan hubungan mereka makanya tiap sore mereka selalu ketemuan dibalik jendela kamar mereka  dan saling melempar surat, cuma itu sih yang aku tahu dari temen deketnya kak Edo Nin”
“hmm, jadi itu alasannya kenapa dia suka ngeliatin kamar aku terus tiap sore, terus kenapa keluarganya kak Risma pindah rumah?”
“ya mungkin karena mereka gak mau berlarut-larut dalam kesedihan karena tiap hari harus ketemu kak Edo dan orang tuanya”
“iya juga sich, duh aku jadi takut nih Ran tidur di kamar itu lagi”
“kenapa mesti takut?toh kamu gak  ada hubungan  apa-apa sama mereka, ya kan?”
Bener juga sich apa yang dikatakan sama rani, tapi akhirnya aku puas karena sudah tak ada lagi yang ditutup-tutupi dan sekarang aku telah tau semuanya.

CRPN_PAA Yesi Kurnia

SEPATU

Siang ini perutku menyahut luar biasa, matahari seolah sombong menunjukkan panasnya, keringat terus bercucuran membasahi dahi dan saputanganku, langkahku terasa berat di tengah nyanian kendaraan, kantong keresek dan tas gendongku semakin memperberat langkahku. Sedangkan dalam ingatan ku masih terbayang wajah pak Tauflk yang tadi memarahiku abis-abisan. Kuliah tingkat satu memang sangat melelahkan kawan.
Setiap hari sepulangnya kuliah aku tudak langsung pulang ke rumah tapi ke toko bahan kue untuk membeli pesanan mamahku yang sedang mencoba usaha lecil-kecilan bersama tanteku. Dari kampus ke toko bahan kue aku harus berjalan kaki melewati jalan trotoar yang gersang dan taman kota yang sejuk dan penuh dengan pohon yang rindang. Hari ini ketika rasa hausku memuncak rasanya terpadamkan oleh suasana yang dingin dan asri di kawasan taman kota. Tapi tunggu, aku merasa ada seseorang yang terus memperhatikanku dari tadi. Bukannya aku keGR-an tapi asli dia terus memperhatikaknku dari tadi. Dia berdiri di bawah pohon besar nan rindang, ketika aku lihat, dia langsung lari. Yang sempat ku liahat dia gadis berkerudung panjang agak kumal, sudahlah Cuma perasaanku saja. Dan tebak kawan hari ini seperti hari kemarin dia berada di sana dengan pandangan yang sama seperti kemari             terbersit dalam pikiranku apa di penunggu pohon disana? Ahk tak mungkin dia menapakkan pijakkannya di atas tanah dan berjlbab panjang. Akh  pasti ini cuma perasaanku saja.
Tapi kejadian ini terus kualami sampai 2 minggu. Aku pun ditarik ole perasaan  penasaran yang luar biasa. Tapi tak apalah untuk 4 hari ini aku libur jadi tidak akan merasa diperhatikan berlebih oleh gadis berjilbab kumal itu.
Pagi ini aku kuliah pagi, pagi-pagi aku sudah berangkat ke kampus, setibanya di gerbang aku melihat gadis itu berdiri di gerbang dengan ekpresi yang datar, kali ini ku penuhi rasa ingin tahuku. Aku hampiri dia, belu 3 langkah dia sudah langsung lari dan naik angkot ketika dia melihatku. Pulangnya aku yakin dia pasti ada lagi di bawah pohon besar itu, tapi perkiraanku salah dia tidak ada disana. Aku tunggu dia selam 2 jam tapi tak terlihat juga gadis itu. Dan aku coba bertanya kepada bapak pedagang jagung rebus yang sering mangkal disana.
“Bhang tahuh hanak chewekh yhang sehering beherdiri di shini bhang?” Tanya ku sambil kewalahan memekan jagung yang panas
“anak cewek mah banyak atuh neng. Neng juga sekaran sedang berdiri disini.” Jawabnya tak tahu canda ataw bukan, garing banget kalau itu candaan.
Aku berhenti makan dan bertanya lagi pada si abang. “Eeeh si abang mah ditanya bener juga, iu lo bang gadis yang pake kerudung panjang yang sering berdiri di sini kira-kira jam seginian bang”
“Owh gadis aneh itu neng” beuk.
“Aneh bang? emang kenapa bang?”
“Jelas aneh atah nueng, dia teh bukan warga disini. Dia sering berdiri disini gak jelas ditambah lagi kayak orang yang stres neng”
“Terus abang tahu dia orang mana? Trus dia mu apa?” tanyaku bak wartawan di kejar terget
“EEmh klo gak salah namanya,,,em,, Tar,,,Tarsih. Eh bukan Mir…ris. Eh bukan Nar,,nar” si Abang menerka samnil mengerlingkan matanya
“ya udah bang gk pa-pa klo gak ingat mah. Abang tahu dia mu ngapain disini?”
“Kemaren sih para pedagang disini nanya dia mau apa disini?”
“Trus”aku menyambar pertanyaan si Abang saking penasarannya
“Katanya mau nyari temannya yang bernama Lani. Udah ah neng ni kembaliannya.”
Eeeh si Abang main pergi aja, tuh kan bener dia pasti kenel aku, tapi siapa dia? sungguh aku tidak tahu.
“Neng..neng kalo mau tahu rumahnya sini bareng abang! Abang tahu waktu kami mengantarkan gadis itu pulang sekalian abang mau nyoba dagang kesana” si Abang teriak dan itu penawaran yang sangat menarik.
Aku ikut bersama Abang tukang jagung rebus, dan akhirnya kami tiba di sebuah rumah petak yang sangat kecil, sangat pengap untuk tinggal lebih dari 3 orang. Si Abang langsung meneruskan jualannya dan aku coba untuk bertamu kerumah itu, siapa tahu rumah itu milik orang yang pernah dekat denganku
“Assalamualaiku,, ada orang” aku memberi salam lebih dari 3 kali tapi tidak ada sahutan. Mungkin penghuninya tidak ada di rumah, sementara jam di HPku sudah menunjukkan jam 5 sore. Aku duduk di kursi yang ada di depan rumah itu selang beberapa menit ada 2 gadis berjalan menuju rumah ini yang satu gadis berumuran kira-kira 15 tahun dan yang satunya lagi adalah gadis yang sering memperhatikanku beberapa hari ini. Dia langsung lari dan Ya  Tuhan aku baru sadar kalau gadis itu pincang, dengan langkah yang tidak sempurna dia berlari sekuat tenaganya. Sedangkan gadis yang satunya lagi melihat dan teriak memanggil wanita tadi.
“Teh,, teteh mau kemana teh?teh kembali teh”
“Itu kakaknya ya? Biar mbak yang kejar ya?” tawarku
“Gak usah mbak nanti juga pulang, sudah biasa ko teteh kayak gitu. Mbak tamu ya? Ayo duduk mbak” sambil tersenyum dia menyambutku dengan baik
“Mbak siapa? Ada apa Ya?” gadis ini memulai pembicaraan
“Saya Lani Rukmana, saya kesini karena penasaran sama teteh kamu yang beberapa akhir ini sering saya lihat di taman kota” jawabku dengan semangat
Sentak wajah gadis itu berubah cemberut dan perlahan senyuman mengembang yang sangat manis
“Jadi mbak orangnya?” aku tak mengerti dengan senyuman dan pertanyaan gadis ini
“maksud ade?”
“Teteh saya selama 5 tahun ini sering bercerita tentang mbak. Nama teteh saya Tarmina” jawab gadis itu. Tarmina? Siapa Tarmina aku tidak begitu ingat dengan nama itu
“Bisa ade ceritakan apa yang di ceritakan teteh ade?” gadis itu terdiam sejenak dan terlihat ada kepedihan di anak ini, tapi dia tersenyum dan kembali bicara
“Mbak adalah teman satu regu teteh waktu Jambore dulu, entah mbak ingat atau tidak tapi teteh sangat mengingat mbak”
“Apa panggilan kakak ade Mina?”
“Ia mbak.” Jawabnya singkat
“Naah kalau Mina mbak ingat. Tapi kenapa Mina terlihat begitiu takut sama mnbak?”
Gadis ini kembali terdiam dan kembali bicara
“Dulu keluarga kami berkecukupan mbak, tapi setelah orang tua kami meninggal kami menumpang di rumah Uwa kami yang tidak ditinggali ini mbak. Sepeninggal Orang tua kami teteh sering sakit-sakitan, teteh sering panas dan dan muntah-muntah dan sekarang teteh jadi begitu kadang teriak gak jelas, kadang diam sampai 2 hari dan juga lupa sama ade.” Kasihan sekali mereka sungguh tak kuasa aku mendengarnya.
“Maaf de setahu teteh Mina dulu berjalan normal kenapa dia sekarang?”
“itu waktu kecelakaan dulu Ayah, Ibu, teteh dan aku pergi jalan-jalan namun taxi yang kami tunpangi kecelakaan dan kaki teteh terjepit dan tidak bisa berjalan dengan lancar. ”
“tunggu mbak masih belum mengerti kenapa Nina sampai ketakutan begitu sama mbak” aku penasran tak tertahan
“Waktu kecelakaan itu teteh sedang memakai sepatu mbak. Sepatu itu tertinggal di perkemahan dan diambil oleh tetah, dan teteh menganggap semua ini hukuman karena sudah mengambil sepatu itu.”
“Sepatu?”aku kebingungan tak mengerti. Gadis itu membawa sesuatu lumayan lama dari dalam, dan dia membawa sepatu walior berwarna hitam. SubhanAllah sepatu itu adalah sepatu hadiah dari nenek waktu aku berangkat Jambore dulu. Aku sempat kesal dan sedih ketika sepatu itu hilang.
“Sepatu ini dan nama mbak yang sering disebut teteh sambil ketekutan di pojok rumah sambil gemtaran”
Aku terdiam lama dan rasanya hatiku tawar tak berasa. Setelah berpamitan aku langsung pulang karena sudah malam dengan sepatu usang. Yang suda tak pernah aku pikirkan, Mina sungguh malang kau. Aku akan akan terus main ke rumahmu sampai kau tidak takut lagi padaku.

CRPN_PAA Risa Wismalia_Khodijah Najmun Al-qaus

believe it or not

Suasana di puncak Bogor yang sejuk, mobil melaju mengikuti jalan berliku. Tak mengapa karena dipinggir disuguhi panorama yang indah, bukit-bukit dengan pohon merunduk, burung-burung dengan suara merdu dan embun putih yang marayu.
“Cekit….!!!!” Suara rem mobil berhenti di pertigaan. Keluarlah seorang pria mengenakan kemeja putih dengan celana hitam rapi. Rambutnya dibelah pinggir dan bulu matanya melentik indah. Itu adalah aku, ya ! sengaja aku ke Bogor setelah di wisuda di kampus biru. Nama ku Dzikry, panggil aku Dik.
Bukan buang-buang bensin dari Jakarta tapi entah mengapa setelah acara wisuda di kampus, hatiku mengajak pergi  ke sebuah mesjid di puncak Bogor.
Sesampainya di bawah bukit, aku berjalan hendak menaiki bukit untuk menuju mesjid itu
“Jagung anget nya den !” ucap seorang ibu tua penjual jagung.
Aku tersenyum dan….
“Beli dua bi !”
“Suka yach ?” Tanya penjual itu sembari membungkus jagung
“Ehm_gak juga, satu lagi buat Rey” ucapku tanpa sadar.
“dia suka jagung bakar ” tambah Dzikry.
“Pacar yach Den ?” Tanya ibu tua itu
“bukan, dia….dia adalah bintang ku, dia adal…” aku lekas tergugah dengan apa yang aku katakan.
“Maaf, ini bi uang nya !”  ucap Dzikry sembari beranjak.
Memang apa yang terucap dari hati kadang kita tak pernah sadar dibuatnya.
Beberapa menit  kemudian, aku berada di depan sebuah mesjid, ya! di mesjid  Mu’alimien. Sebuah mesjid kecil yang berada di salah satu puncak bukit di Bogor, dengan udara yang bersih aku terduduk di sebuah kursi dari besi. Kursi yang setahun lalu pernah aku duduki. Masih sama, kursi itu ada di depan Mesjid,dikelilingi bunga dan ada kolam ikan kecil disampingnya. Yang berbeda hanya  kursi itu sedikit berkarat dan keadaan. Ya ! keadaan yang berbeda membuat hidupku sempat penat dan rapuh, tapi…. Sudahlah !
Ku dudukan tubuhku pada kursi itu, dengan dua buah jagung bakar yang masih berasap. Pandangan mataku tertuju pada sebuah bukit di sebrang bukit yang ku pijaki, di bawah terdapat laju mobil yang berjalan menyusuri liku jalan dan ada mobil ku. Seketika kepalaku tengadah, melihat langit yang biru luas dan sepotong awan putih, mentari tak ada menemaniku, tertutup awan hitam disebelah barat. Hidungku menghirup udara,
“Masih sama” lirih Dzikry, harum itu masih sama, langit itu masih sama dan hati ku masih sama..
Seketika aku menerawang satu tahun silam, saat aku dengan dia duduk bercengkrama di kursi ini,….
“Dik, kamu tau gak ? aku seneng….. banget !!! bisa liat langit, awan, makan jagung dan ada disamping kamu” ucap Reyzha kekasihku
“Bener nich ?! aku juga seneng, tapi jangan GR ! aku seneng karena ada jagung bakar. He..he..” balas Dzikry menggoda Rey.
“Ich !!nyebelin !!! “
Rey memukul lembut Dik dengan kekesalannya. Mereka kejar-kejaran di pekarangan mesjid, ke kolam ikan, ke belakang kursi dan….
“Nah..kena loh !” Dik menarik tangan Rey.
Satu tahun silam itu, masih terbayang dibenak Dik. Dan saat Rey berkata…
“Dik, setelah kamu di wisuda, kamu janji yach mau ngelamar aku !”
“Iya sayang !! aku pasti datang kerumah kamu” ucap Dzikry sembari mengecup kening Rey.
Rasanya takdir akan manis didepan mata, tapi kenyataannya kini setelah satu tahun berganti, Dik duduk sendiri di kursi tempat mereka menaruh janji. Bahkan wisuda pun telah digelar, tapi Dik masih sendiri di hadapan kolam ikan itu, apa yang terjadi ? kemana Reyzha ?
Setetes mutiara jatuh dari mata Dik. Mengenai tangan yang dulu Rey genggam. Jagung Nampak sudah dingin oleh rindu Dik pada Rey.
“Rey…aku merindumu…” lirih Dik dengan menutup mata. Direbahkannya tubuh Dzikry pada sandaran kursi. Matanya masih menutup dengan kelam bayangan Rey.
Terbayang dibenaknya, senyum Rey, canda Rey yang kini tak bisa Dik lihat. Batu nisan dan tanah coklat telah memisahkan Dik dan Rey.
“Reyyyyyyyyyyyy………….!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Dik beranjak dari kursi. Tubunya berdiri dengan kaki bergetar, tenggorokannya tercengat setelah berteriak.
“Rey…. Aku …aku….aku cinta kamu Rey …kenapa kamu pergi ??!!! kenapa ???!!!!”
Rasa yang tersisa hanya penyesalan karena Rey pergi saat Dzikry berada di Bekasi. Saat itu Dik sedang menemui kakaknya. Tanpa Dik tau Rey kecelakaan dan meninggal ditempat. Sampai pulang, Dik tak pernah melihat wajah  Reyzha lagi. Padahal reka janji dan mimpi indah telah mereka renda bersama.tapi tak ada yang bisa menahan takdir’Nya.
Dzikry kembali terduduk, dan mencoba berfikir jernih
“Rey aku rindu kamu sayang !! apa..apa kamu masih ingat saat kita duduk bersama di kursi ini ? apa kamu masih ingat dengan jagung bakar itu ? dan..apa kamu ingat janji kita untuk hidup bersama ? saat langit membiru dan udara merasuk ? saat…saat…aku mengecup keningmu, dan..aku kini telah di wisuda, malam ini aku akan kerumahmu, tapi…tapi kenapa kamu meninggalkan ku Rey ? kenapa ? tanpa pamit, tanpa senyum tanpa…akh…Rey…!!!”
Dikendorkannya dasi hitam Dzikry, dia sadar tak sadar telah menempuh hidup tanpa Reyzha. Dik menarik nafas mencoba menenangkan diri, Dimakannya jagung bakar yang sempat dibeli tadi…
“Rey, aku beli dua, ini buat aku dan kamu…kamu kan suka jagung..” ucap Dik sambil terus makan jagung. Pikirannya menerawang seolah Rey ada disampingnya.
Sampai satu jam lebih Dik berada di depan mesjid itu, dia beranjak dan turun kebawah.
 Tangga-tangga yang dipijaki mengingatkan pada Rey yang selalu manja kalau manaiki tangga. Rey…rey..rey..hanya rey yang ada dipikiranku. Sampai tiba di dekat mobil, Aku tengadah melihat mesjid di atas bukit, dan….sebuah kursi besi kosong. Lekas aku masuk mobil, dan…….melaju kembali ke Jakarta dengan hati gundah gulana….

CRPN_PAA ELI SITI HALIMAH_Eisha Judul : Fatamorgana

Fatamorgana

Suara gemericik air, dedaunan hijau tertiup angin, angin yang hanya membawa kabar hampa, hambar tidak ada rasa. Di ruangan yang kecil di balik jendela dengan gorden merah merona ku termenung sendiri melihat awan-awan mendung di sekitarku sembari mengeluarkan air hujannya. Di waktu itu
ku teringat akan masa laluku
yang penuh dengan luka-liku kehidupan”.
Dengan bertambahnya usia ku semakin merasakan campur sarinya kehidupan ada sedih dan suka cita. Di waktu itu pula aku mencurahkan sesuatu yang pernah ku alami kepada yang ada di sekitarku.
Berawal dari sebuah perlombaan antar sekolah. Disana kutemukan pengalaman pertama yang begitu berkesan. Senang, gembira bercampur tegang dan takut ada di sana. Di ruangan yang begitu besar, dinding bercat putih berbagai kerajinan tertata rapi. Namun aku seolah duduk di kursi panas dengan dilingkupi kain hitam. Di saat itu tiba-tiba ada sosok pria dari belakangku bertanya padaku. “Hai! Bisa bantu saya gak??”tanyanya.  Dan aku pun kaget. Entah mengapa di waktu itu
“hatiku berdebar kencang seakan genderang akan dimulai, perang, ombak berdebur dan bergemuruh dengan keras”
“Emh..boleh…”ku jawab pertanyaan itu dengan pelan-pelan. Setelah berakhirnya  perlombaan , aku segera pergi dari luar ruangan dengan perasaan yang tidak menentu. Saat ku berjalan di lorong-lorong ruangan berhiaskan lukisan, dengan ornamen-ornamen indah nan menawan. Bunga harum semerbak tertata rapi disertai suratan slogan-slogan untuk motivasi belajar.
Semilir angin menghempas tubuhku dengan membawa suara seorang murid laki-laki. “Hai!!Tunggu…!!’’kata laki-laki itu. Entah mengapa perasaan tadi terulang kembali. “Emh..boleh kenalan gak??” Dia memulai pembicaraan. “Boleh!!”Ku jawab dengan singkat, padat dan gugup atau gemper (dalam bahasa Sunda).”Siapa namamu? Bisa minta nomer handphone dan alamat facebook?”. Ku jawab dengan segera “Namaku Riska, nomer handphonenya 085223833472, alamat facebooknya eizha47@yahoo.com”. Dia pun langsung menjawab dengan segelintir senyuman diiringi lesung pipitnya yang indah  “Namaku Adly tanpa Fairuz, aslinya Adly Rahmanto”. Di kala mentari tenggelam kupandangi mega merah di senja hari yang akan menggantikan putaran waktu. Tak terasa sekian lama kita berkenalan sayangnya cinta tak pernah terucap antara kita. Selepas hitungannya mega-mega merah dari pandanganku. Kuberkata “Mungkinkah itu sebenarnya?”. Seribu pertanyaan kulemparkan dalam dekapan asmara dan cinta, dimana cinta kita yang suram dalam kegelapan, kesunyian malam. Ingin mencari kepastian darimu walau gelap malam menutupi hati dan jiwaku. Dalam mimpi pun kita tetap membisu seribu bahasa mungkin kita yang tak mau mengakui bahwa cinta itu ada?
            Di hari Minggu nan cerah, dia mengajak Pedekate (bahasa gaulnya) di sebuah taman kota yang resik dan hijau. “Selama ini sudah lama saya memendam rasa ini, dan sekarang saya akan melemparkan satu kalimat ke atas langit menembus awan terbang bersama jutaan malaikat. Satu kalimat dilesapkan ke dasar laut memecah ombak berenang bersama ikan-ikan kecil. Satu kalimat yang dikirimkan ke puncak gunung menerobos hutan berlari bersama kuda dan singa, bahwa aku suka padamu, kalau dalam bahasa Mbah Suripnya I love You Full dech..”Adly berkata begitu tenang. ”Tapi bagaimana denganmu??” Dia langsung bertanya. Karena dengan gugup dan kagetnya, aku tak langsung menjawab pertanyaan itu. Aku langsung pergi dengan wajah gugup.
            Sejak rasa itu hadir dalam diriku kau memberi warna dalam jiwaku. Namamu telah tertanam dalam lubuk hatiku. Di malam yang begitu sunyi aku tak dapat tidur karenamu. Tak musnah senyumanmu dari ingatanku, tatap matamu tak pernah padam tak henti aku memikirkanmu. Wahai angin malam sampaikan rinduku, bantu aku untuk menyatakannya bahwa aku juga mencintainya.
            Entah mengapa aku tak ingin jauh darimu, bayangmu kan selalu ada menemani dalam setiap langkahku di setiap saat di setiap waktu. Di saat aku susah kau selalu ada, di saat aku tersudut kau selalu membelaku. Sungguh dirimu yang selalu mengerti aku. Dan hanya dirimu yang selalu ada di hari-hariku. Kau isi hari-hari dengan ceria hingga ku tak pernah mengenal kesedihan dalam hidupku. Kau ajari aku segala sesuatu yang aku tak mengerti. Walaupun kau jauh dariku aku hanya ingin kau tahu hanya dirimulah yang mengerti aku dan hanya dirimulah kekasihku. Setelah lama aku mengenalmu dengan satu nama, memahamimu dengan satu renungan, mengingatmu dengan satu kenangan, menyayangimu dengan penuh perasaan. Ku berharap hubungan ini tak akan retak oleh aral melintang atau sesuatu apapun yang dapat merobohkan benteng pertahanan cinta.
            Namun hidup ini memang tak selamanya indah, prahara pun datang menimpa cinta kami. Dengan kehadiran sosok perempuan yang merupakan orang ketiga akhirnya dapat meluluhkan hatinya yang membuat mereka menjalin suatu hubungan dengan menyelinap di belakangku dengan membuka kisah lama mereka. Perasaan cemas atas dasar cemburu, perasaaan benci atas dasar kesepian. Hanya ini bentuk ungkapan rasa yang dapat kau lihat dalam diriku. Tak berani ku ungkap cinta kepadamu karena kekecewaan yang telah menoleh luka dalam hatiku. Kini ku hanya dapat membiarkan akar cintanya tumbuh subur dalam jiwa mereka. Kau takkan pernah tahu dan takkan pernah kuberi tahu bahwa aku disini tetap menyayangimu, karena cintaku sudah tenggelam di lautan, pengorbanan hanya untuk berenang ke dasar hatimu.
“Sungguh terkoyaknya hatiku, duri-duri menancap di tubuhku, parang besi menggores luka, pistol siaga membidikku, harimau siap menerkam, hatiku galau apa semua akan berakhir?”
 Tidak! Di sana, di langit senja satu dari berjuta bintang melambai ke arahku dengan menyerukan satu kata yang tak ku pahami, bulan di sana tersenyum padaku menyiratkan satu makna tak tentu, di ufuk timur sang surya berkata bahwa aku tidak boleh putus asa. Tetapi aku menangis, merintih mungkin tiada arti lagi aku hidup, biarlah badai dan gelombang laut menenggelamkan aku hingga aku terbangun nanti. Aku menjerit ke atas langit menembus awan-awan ternyata selama ini kesetiaan dan kasih sayang yang aku berikan hanyalah sia-sia tiada arti. Ku ingin mencabut benalu itu dari tanamanku dan akan ku buang jauh-jauh ke seberang sana sehingga tak akan pernah kembali.
            Sesaat itu datang seorang sahabat baikku, Tina namanya. Dia selalu memberikan petuahnya yang selalu terngiang-ngiang
”bahwa milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci, sebuah senyuman yang tak pernah pudar, sebuah sentuhan yang tak akan pernah menyakiti dan sebuah kisah yang tak akan pernah berakhir”.
Dan aku pun selalu menjawab “Tina, terima kasih, kau banyak mengajariku kesabaran, kau orang yang selalu ada saat aku sedih, semua kebaikanmu kan selalu ada dan ku simpan serta ku abadikan di hatiku”.
            Di suatu hari Tina datang ke rumahku, tapi tidak seperti biasanya, Tina selalu membawa wajah yang riang tapi kini dia membawa wajah yang kusut. Benar perkiraanku Tina membawa kabar berita tak sedap, menusuk jantung hati, petir siang hari menyambar, begitu sakit sayatan sebelah pedang mengkoyak-koyak tubuhku bahwa Adly telah mengalami kejadian yang begitu mengerikan hingga kau meninggalkanku untuk selamanya. ”Apakah kau tak berbohong?? Aku bertanya dengan rasa keraguan”. “Kau harus menerimanya dengan ikhlas, ya Riska?? Aku yakin kamu adalah orang yang sabar” Tina berkata dengan lemah lembut”. Yakinlah bahwa batin ini menangis saat ku lepaskan genggaman tanganmu, kini semua berakhir sudah. Ku tak mungkin bisa merasakan kasihmu. Berapa lama ku harus menangis atas pengorbanan cinta, raga dan nyawa? Karena kau ku hidup, karena kau ku menangis. Kenapa kau larang nyawa ku tuk pergi? Kenapa kau biarkan waktu yang mengambil alih hidupu? Apakah cinta dan nyawa adalah musuh? Tetapi kau hanya diam dan diam tak ada jawaban. Jangan harap sepiku ini kan berujung. Aku bukan pengemis kebahagiaan, aku ingin kau kembali ke hadapanku tanpa suatu syarat tapi karena ketulusan dan kata maaf yang ku harap darimu. Apakah aku harus terbang ke duniamu? Agar dapat melihat seuntai senyuman tuk yang terakhir. Kau yang begitu mewarnai hidupku, jiwa selangkah kan bahagia seandainya dirimu tetap di pelukku.
“Tetapi kini sudah tak terlihat lagi oleh pelupuk, tak terdengar lagi oleh telinga dan melambai jauh melalui perasa”.
Saat ini yang kurasakan hanya pedih, sedih dan nyeri. Kemana harus ku cari dirimu yang hilang. Kemana hatimu yang dulu penuh dengan namaku. Kemana sorot elangmu yang bertumpuk oleh senyumku, dan kemana alunan suaramu yang mendayu?
            Di pagi yang dingin ku termenung melihat awan. Dalam kesunyian pagi ku tersadar bahwa cinta tak harus memiliki, cinta tak bisa dipaksa dan karena terpaksa. Cinta itu adalah keikhlasan dan kepasrahan kasih sayang. Cinta itu suci, tulus, putih dan bening. Cinta itu bukan permainan dan juga bukan bahan objekan. Dan akhirnya ku tersadar bahwa selalu hanya Engkau pada akhirnya menuntunku dalam gelap tak berjarak, dingin  angin meremuk tulang. Tuhan….aku pada pihakmu, selalu pada pihakmu. Ku tersadar ku telah jauh dan jauh darimu. Kata-kata terbentur di lidah hanya terbentur di lidah, kata-kata tak mengaliri hati, hati telah kosong didera petaka. Mengapa keinginan kerap berpihak pada bencana, menistakan rintih kalbu sebegitu jauh aku enyah darimu. Tuhan…..jangan pergi dariku dan jangan tinggalkan aku. Isyarat-isyarat telah dinyalakan pada belalak mata dan nganga jiwa. Wajahku membentur bias terang silau hatiku alam rahmatMu di sini dan di mana pun pada akhirnya hanya engkau yang setia menemaniku.
“Tuhan….aku sujud padamu hanya padamu”
 Dengan berhentinya turun air hujan ku tersadar bahwa aku harus melihat ke depan untuk menjadi yang lebih baik.

CRPN_PAA Siti S Solihat_Tsamroh Fauzah (akhir kisah si perantau)

Akhir Kisah Si Perantau

                Cinta tak harus memiliki,meski hati berkata rindu tapi hanya angin yang berdesah yang menyampaikan kerinduanku. Awalku mengenalmu berakhir dengan ikrar janji yang terucap dari mulut manis pangeran hati.

                Masa SMA adalah masa yang paling indah, rame dan menyenangkan. Masa mengenal lawan jenis, bermain cinta dan meras paling dari yang lain. Memutilasi sikap dan sipat artis sudah mendaging dalam jiwa para remaja. Aku Sinta,siswi SMA di salah satu sekolah Cianjur. Kota rantauanku begitu elok berseri memancarkan kedamaian. Aku bergegas meninggalkan kota kelahiranku dengan inspiration education . sesekali aku pulang ke tempat kelahiranku untuk berlibur merasakan keluarga tercinta.
                Tiga hari lagi, libur semesterpun akan usai. Selama itu juga, aku tak henti merayu orang tuaku untuk tinggal di asrama dan tidak tinggal di rumah paman dan bibi. Merekapun menyetujui aku untuk tinggal di asrama. Ugh.. betapa senangnya aku bisa sekolah SMA dan juga belajar ilmu agama di asrama. Bisa belajar mandiri, measakan kenyamanan dan merasakan masa remajaku yang setahun lalu aku terkekang paman dan bibi.
                “Aku bagaikan burung yang terpenjara besi emas”. Setahun tinggal di rumah paman dan bibi, aku merasakan kesepian, gak ada yang ngertiin aku dikala sedih, kecapaian ataupun kesakitan. Kedisplinanadalah kunci kesuksesan, tapi apakah semua kedisiplinan menjadi patokan hidup yang mengibarkan kesucian dan beningnya hati  seseorang. Setiap hari aku harus bangun tidur sebelum adzan shubuh, beres-beres, bersih-bersih, nyuci, masak dan menyetrika sudah menjadi aktivitas keseharianku.
“aku babu tak berupah yang terjerat benang merah. Bukanya aku tak mau menjalankan aktivitas itu, tapi aku merasa tidak nyaman dengan sikap paman melarang aku untuk “dekat “ dengan lki-laki dan seringnya memarahiku tanpa mendengarkan alasan-alasanku terlebih dahulu. Suatu hari pulang sekolah, aku diantarkan kakak kelasku, paman dan bibiku arahnya minta ampun. “ Kata demi kata yang membuat lirihnya hati berlumur darah terlontar dari mulut bunga mawar merekah dengan penuh tusukan duri yang tak henti”. Setiap aku pulang sore karena karena mengikuti ekstrakurikuler  dikiranya aku main dulu bahkan pacaran, padahal waktu pamit berangkat sekolah aku minta izin terlebih dahulu.
“ Bi, nanti  aku pulang sore soalnya ada ekstrakurikuler di sekolah”.
“Ya, gak apa-apa yang positif bibi dukung”.
“Assalamu a’laikum,sinta  berangkat duluan bi”.
***
Asrama adalah mintakat kehidupanku, tapi aku tak tahu gugus bintang mana yang aku tempati ini.

                Tak terasa sudah sebulan aku tinggal di asrama dengan merasakan berbagai aktifitas yang membuat aku lebih tenang, nyaman, mandiri, hidup sederhana dan belajar membagi waktu. Memang sekamar dengan orang lain itu gak seenak di kamar rumah sendiri. Bukan hanya harus  selalu rapih dan bersih tapi harus tahu dan hafal pribadi dan karakter teman sekamar kita.
“Sabatni wa asbatni fatatun malihatun, kafa bii qalbi hifdhul qur’ani qariinun”.
“Seorang gadis yang cantik telah mencuri hatiku dan akupun tertarik padanya,tapi cukup bagiku menghafal Quran sebagai temanku”.

Tercenganglah aku mendengar para santriwan yang berulang-ulang membacakan syair itu. Apakah maksud syair ituadalah perintah secara tidak langsung supaya laki-laki tidak dekat dengan wanita ataupun sebaliknya? Ya sudahlah kalaupun ya seperti itu, aku sudah terbiasa kenal dengan laki-laki tapi bukan berarti “dekat”. Meski hati berbisik, ingin rasanya aku seperti teman yang lain dekat dengan laki-laki.
Waktupun terus melaju, tanpa disadari, tanpa sepengetahuan diri, tanpa terpikirkan sebelumya tapi hanya mata hati yang tahu dan merasakan bahwa aku menyukai seorang ikhwan bernama Randi yang dulunya aku benci karena kecuouan dan kepolosannya. Rasa itu terus berkembang dalam benak jiwaku. Apalagi ketika dia berubah menjadi lebih rapihdan rajin, bahkan nilai ulangan Matematika aku waktu itupun di bawahnya nilai dia.
Lama kelamaan perasaan itu semakin aneh. Apakah aku salah punya rasa cinta ? agh.. aku harus tetap fokus untuk mengejar prestasi. Aku tidak bolrh mengecewakan orang tuaku dan apa yang akan terjadi jika paman aku tahu, kalau aku punya perasaan aneh sebelum aku keluar SMA. Aku akan terus ingat pepatah guruku! “Aku harus mejadi batu pahat yang kuatdan kokoh yang nantinya bayak dicari orang banyak dengan harga yang sangat mahal harganya”.
Hari perpisahan sekolahpun tiba. Semua siswi kelas 3 memakai pakaian kabaya, sedangkan laki-lakinya memakai kemeja putih dan celana hitam. Aku senang sekali karena aku bisa kembali ke Tasikmalaya tinggal bersama orang tuaku dan adik-adikku, tapi di sisi lain hati kecilku ingin tetap tinggal di kota tauco ini. Paginya aku menitipkan surat untuk pangeran hatiku lewat adik kelasku. Aku memberanikan diri untuk jujur perasaanku. Ugh.. apakah ini mimpi! Ketika beres acara perpisahan dia bicara kepadaku tentang isi hatinya.
“Ta, selama ini aku juga merasakan hal yang sama kepada kamu tapi aku malu, karena yuang aku lihat darimu hanyalah keambisian mengejar prestasi. Dan aku juga berterimakasih kepada kamu yang telah membuat aku berubah menjadi lebih baik. Kau cinta pertamaku yang membuat hidupku indah. Meski aku akan kehilanganmu dari mataku, tapi mata hati dan pikiranku akan selalu mengingat dan menyimpan senyum indahmu samapi akhir hidupku. Aku yakin cinta yang aku miliki untukmu tidak akan pupus terhalang jarak dan waktu”.

Tasikmalaya, 2010


CRPN_PAA IMAS SITI NURHASANAH_IMZHY NURRAMADHANIA KHAIRUNNISA_TAKDIR CINTA

TAKDIR CINTA

Ini tentang seorang gadis bernama Sisi yang tinggal di suatu kota bernama Ramangsari. Ia adalah gadis berumur 17 yang baik nan berperangai cantik. Sejak sekolah dasar sampai sekarang berada di sekolah menengah tingkat atas, ia selalu menjadi bintang kelas. Ia terlahir dari keluarga berada, semua yang ia mau pasti akan selalu ia dapatkan. Kehidupannya begitu sempurna.
          Tetapi apalah dapat dikata, Sisi mempunyai kisah cinta yang memilukan. Cinta pertamanya ditemukan sejak ia masuk ke sekolah menengah pertama. Ada seorang laki-laki yang merupakan kakak kelasnya menyukai dia. Sisi mengetahui bahwa ada seorang laki-laki bernama Rafka menyukai dirinya.  Suatu hari, Rafka mengajak Sisi untuk bertemu, tapi Sisi menolak karena ia harus mengikuti kegiatan ekstra kulikuler sampai sore. Ternyata, Rafka menunggu Sisi sampai sore. Sore itu di kantin pojok sekolah, mereka duduk berdua.
Rafka berkata, “Sebenarnya dari dulu aku..... aku.....”.
Sisi menyanggah : “Eh kak, saya kira kakak tidak menunggu” (Sisi bterheran-heran).
Rafka : “ Ih....Sisi kok gitu??? Akju kan sedang bicara, kamu kok memotongnya begitu saja.”
Sisi : “ Maaf kak, habis saya kaget ternyata kakak menunggu saya.”
Rafka : “ Aku tuh suka sama kamu.....” (Rafka mengatakan itu dengan nada keras&sedikit kesal).
Sisi kaget, ia hanya diam dan tersenyum malu. Kemudian mereka pun pulang berdua. Perjalanan cinta mereka pertamanya berawal bahagia, tetapi beberapa bulan kemudian harus menempuh kerikil tajam pula.
Akhirnya tiba jua saat mereka berpisah, Rafka adalah siswa kelas 3 SMP. Akhir tahun pelajaran, Rafka menginjak ke bangku SMA dan ia memilih sekolah di lur kota sehingga mereka berpisah dan tidak bisa berkomunikasi dikarenakan mereka tidak mempunyai alat komunikasi.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, mereka masih tetap setia walaupun tak bisa bertemu dan jua tak bisa berkomunikasi. Tetapi, beberapa minggu kemudian, Rafka mulai tergoda oleh gadis sekitar lingkungannya. Ia menghianati Sisi.


***************** Bersambung ****************

CRPN_PAA Resti Budiarti_Ierest Rerest JM

PELANGI
Malam telah larut. Aku baru saja menutup buku kumpulan soal-soal SNMPTN. Menyelesaikan soal-soal fisika yang menurutku, luar biasa rumitnya. Ku basuh muka kantukku dengan sucinya air wudhu. Menggelar sajadah cinta, bermunajat pada Yang Maha Rahim. Meminta semua yang terbaik.
“GAGAL”
Aku tak percaya. Ku baca lagi dengan lebih cermat, mencari nama “Zahra Zulfikar” di daftar nama siswa yang diterima PMDK di IPB. Namun tetap tidak muncul juga. Kecewa memang, tapi ku coba untuk tegar. Mungkin bukan saatnya.
Kegagalanku harus ku jadikan cambukan. Itu tekadku. Semakin rajin belajar, les, dan latihan soal-soal. Bagiku, kedokteran hewan adalah impian terindah. Dan aku pun tahu, tak segampang membalikkan tangan untuk mencapainya. Aku yakin, akan indah pada waktunya.
Ujian Masuk seminggu lagi, 2 hari setelah Ujian Nasional. Semakin giat aku belajar, semakin keras otakku dilatih. Memantapkan untuk Ujian Nasional dan menyiapkan untuk test UM. Berharap kali ini aku lolos. Tak lupa intensitasku bermunajat pada-Nya kian diperbanyak.
Ujian Nasional baru saja selesai. Rasanya lega, beban sedikit berkurang. Saatnya fokus untuk menyiapkan seleksi masuk IPB. Dengan langkah ringan, aku bergegas menuju tempat les bersama sahabatku, Viona, yang juga berenca masuk IPB, Statistika.
“Na.. Awas !!” Aku menyingkirkan Viona yang hampir saja tertabrak Mobil di sebrang sekolah. Tapi malah aku yang terserempet, tak sempat menghindar.
Tangan dan kakiku luka-luka dan berdarah. Tanganku kaku, tak bisa bergerak dan tak sadarkan diri. Aku segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat oleh Viona dan Gilang serta mobil yang menyerempetku. Viona dengan cepat menghubungi kedua orang tuaku.
Aku mengalami Dislokasi Elbow Joint. Lengan kananku susah digerakkan. Terbentur dasbor mobil yang melaju kencang. Seminggu, aku menginap di Rumah Putih. Ya, Rumah Sakit yang segalanya putih. Aku tak bisa mengikuti UM IPB karena hal ini. Ini kekecewaanku yang kedua kalinya. Kecewa memang. Tangispun kembali membuncah. Tapi Viona dan Gilang menyemangatiku, agar aku tetap semangat melakukan terapi dan pengobatan lainnya untuk mempercepat proses penyembuhan. Semua biaya pengobatanku hingga aku sembuh nanti ditanggung Bapak Saman, yang menyerempetku. Dia tak lain adalah ayahnya Gilang.
Setiap sore, Viona dan Gilang membawakanku materi dan soal-soal yang dipelajari di tempat les. Walaupun mereka telah diterima di IPB dan ITB, mereka tetap les untuk menggantikanku. Memang, tanganku masih sakit jika bergerak. Tapi semangatku tak kan terpatahkan. Dengan tangan kiri, aku memegang pena walaupun tulisan yang ku goreskan tak jauh seperti cakar ayam. Untung saja otakku tidak kehilangan semua memory-nya.
SNMPTN adalah jalan terakhirku untuk mendapatkan tiket masuk IPB. Dan itu hanya 2 minggu lagi. Tangan kananku masih kaku, meskipun gips telah dibuka seminggu yang lalu. Tangis tak terbendung lagi, mengeluarkan mutiara beningnya. Aku ingin berteriak sejadi-jadinya.
H-1 SNMPTN
02.02 angka yang tertera di jam digital kamarku. Beranjak dari meja tulisku, membasuh wajah dengan sucinya air wudhu. Hanya Alloh-lah yang bisa menolongku. Kembali menangis sejadi-jadinya, mencurahkan segala kegundahan hati kepada sang pemilik dunia ini. Dan ku tutup munajatku dengan 3 raka’at Witir.
Akhirnya kantuk pun datang bercampur lelah setelah sehari semalam belajar menghitamkan jawaban dengan tangan kiri. Terlelap diatas sajadah cinta sang Khaliq hingga duha menyapa.
“Astagfirulloh.. sudah pagi. Saya belum shalat subuh.” Teriakku saat cahaya matahari menyelinap lewat jendela kamar.
Bergegas mengambil air wudhu dan shalat subuh walaupun terlambat. Biarlah terlambat daripada tidak, prinsipku. Ku ambil kitab suci al-qur’an diatas meja.
“Subhanalloh.. tangan kananku sembuh seperti sediakala. Kini aku bisa membawa barang dengan tangan kanan.” Aku berteriak menghampiri Bunda dan menunjukkan tangan kananku yang sembuh. Bunda pun mengucurkan air mata kebahagiaannya.
Malam ini kurasa semuanya telah siap. Istirahat yang cukup adalah persiapan terakhir dan relaksasi untuk menghadapi SNMPTN besok. Dengan senyuman, aku tertidur lelap.
Sebelum subuh aku terbangun, makan sahur dan shalat malam. Tak lupa berdoa untuk kelancaran test nanti. Tak menyentuh buku sedikitpun menjelang hari H itulah prinsipku. Kini aku pun terus membaca Al-Qur’an hingga mentari muncul dan bersiap-siap menuju lokasi test.
“S1-Kedokteran Hewan IPB _ TIDAK DITERIMA
“S1-Ilmu Gizi IPB _ DITERIMA”
Danau air mata mengeluarkan mutiaranya. Ketiga kalinya aku gagal dan kecewa. Tapi akupun tidak boleh kufur, masuk Ilmu Gizi pun harus aku syukuri. “Mungkin ini yang terbaik untukku.”ucapku dalam hati mengobati kekecewaan.
Ku coba test terakhir, yaitu USM STAN. Setelah kekecewaan yang lalu, aku tidak ingin berharap banyak. Masuk ya syukur Alhamdulillah, kalaupun tidak masuk, ya ga papa. Ujian ini bak undian menurutku, biar tak ada kekecewaan lagi. Karena saingan ku pasti akan lebih banyak lagi dari test-test yang lalu.
“No. 251 _ ZAHRA ZULFIKAR _ D3 AKUTANSI _ SMAN 1 TASIKMALAYA”
Aku hampir tak percaya. STAN yang sangat sangat ketat saingannya dan aku bisa Lolos. Sujud syukurku diiringi tangis bahagia. Menambah kecintaanku pada sang Penyayang. “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal banyak kebaikan didalamnya”. Dan yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys