Akhir Kisah Si Perantau
Cinta tak harus memiliki,meski hati berkata rindu tapi hanya angin yang berdesah yang menyampaikan kerinduanku. Awalku mengenalmu berakhir dengan ikrar janji yang terucap dari mulut manis pangeran hati.
Masa SMA adalah masa yang paling indah, rame dan menyenangkan. Masa mengenal lawan jenis, bermain cinta dan meras paling dari yang lain. Memutilasi sikap dan sipat artis sudah mendaging dalam jiwa para remaja. Aku Sinta,siswi SMA di salah satu sekolah Cianjur. Kota rantauanku begitu elok berseri memancarkan kedamaian. Aku bergegas meninggalkan kota kelahiranku dengan inspiration education . sesekali aku pulang ke tempat kelahiranku untuk berlibur merasakan keluarga tercinta.
Tiga hari lagi, libur semesterpun akan usai. Selama itu juga, aku tak henti merayu orang tuaku untuk tinggal di asrama dan tidak tinggal di rumah paman dan bibi. Merekapun menyetujui aku untuk tinggal di asrama. Ugh.. betapa senangnya aku bisa sekolah SMA dan juga belajar ilmu agama di asrama. Bisa belajar mandiri, measakan kenyamanan dan merasakan masa remajaku yang setahun lalu aku terkekang paman dan bibi.
“Aku bagaikan burung yang terpenjara besi emas”. Setahun tinggal di rumah paman dan bibi, aku merasakan kesepian, gak ada yang ngertiin aku dikala sedih, kecapaian ataupun kesakitan. Kedisplinanadalah kunci kesuksesan, tapi apakah semua kedisiplinan menjadi patokan hidup yang mengibarkan kesucian dan beningnya hati seseorang. Setiap hari aku harus bangun tidur sebelum adzan shubuh, beres-beres, bersih-bersih, nyuci, masak dan menyetrika sudah menjadi aktivitas keseharianku.
“aku babu tak berupah yang terjerat benang merah. Bukanya aku tak mau menjalankan aktivitas itu, tapi aku merasa tidak nyaman dengan sikap paman melarang aku untuk “dekat “ dengan lki-laki dan seringnya memarahiku tanpa mendengarkan alasan-alasanku terlebih dahulu. Suatu hari pulang sekolah, aku diantarkan kakak kelasku, paman dan bibiku arahnya minta ampun. “ Kata demi kata yang membuat lirihnya hati berlumur darah terlontar dari mulut bunga mawar merekah dengan penuh tusukan duri yang tak henti”. Setiap aku pulang sore karena karena mengikuti ekstrakurikuler dikiranya aku main dulu bahkan pacaran, padahal waktu pamit berangkat sekolah aku minta izin terlebih dahulu.
“ Bi, nanti aku pulang sore soalnya ada ekstrakurikuler di sekolah”.
“Ya, gak apa-apa yang positif bibi dukung”.
“Assalamu a’laikum,sinta berangkat duluan bi”.
***
Asrama adalah mintakat kehidupanku, tapi aku tak tahu gugus bintang mana yang aku tempati ini.
Tak terasa sudah sebulan aku tinggal di asrama dengan merasakan berbagai aktifitas yang membuat aku lebih tenang, nyaman, mandiri, hidup sederhana dan belajar membagi waktu. Memang sekamar dengan orang lain itu gak seenak di kamar rumah sendiri. Bukan hanya harus selalu rapih dan bersih tapi harus tahu dan hafal pribadi dan karakter teman sekamar kita.
“Sabatni wa asbatni fatatun malihatun, kafa bii qalbi hifdhul qur’ani qariinun”.
“Seorang gadis yang cantik telah mencuri hatiku dan akupun tertarik padanya,tapi cukup bagiku menghafal Quran sebagai temanku”.
Tercenganglah aku mendengar para santriwan yang berulang-ulang membacakan syair itu. Apakah maksud syair ituadalah perintah secara tidak langsung supaya laki-laki tidak dekat dengan wanita ataupun sebaliknya? Ya sudahlah kalaupun ya seperti itu, aku sudah terbiasa kenal dengan laki-laki tapi bukan berarti “dekat”. Meski hati berbisik, ingin rasanya aku seperti teman yang lain dekat dengan laki-laki.
Waktupun terus melaju, tanpa disadari, tanpa sepengetahuan diri, tanpa terpikirkan sebelumya tapi hanya mata hati yang tahu dan merasakan bahwa aku menyukai seorang ikhwan bernama Randi yang dulunya aku benci karena kecuouan dan kepolosannya. Rasa itu terus berkembang dalam benak jiwaku. Apalagi ketika dia berubah menjadi lebih rapihdan rajin, bahkan nilai ulangan Matematika aku waktu itupun di bawahnya nilai dia.
Lama kelamaan perasaan itu semakin aneh. Apakah aku salah punya rasa cinta ? agh.. aku harus tetap fokus untuk mengejar prestasi. Aku tidak bolrh mengecewakan orang tuaku dan apa yang akan terjadi jika paman aku tahu, kalau aku punya perasaan aneh sebelum aku keluar SMA. Aku akan terus ingat pepatah guruku! “Aku harus mejadi batu pahat yang kuatdan kokoh yang nantinya bayak dicari orang banyak dengan harga yang sangat mahal harganya”.
Hari perpisahan sekolahpun tiba. Semua siswi kelas 3 memakai pakaian kabaya, sedangkan laki-lakinya memakai kemeja putih dan celana hitam. Aku senang sekali karena aku bisa kembali ke Tasikmalaya tinggal bersama orang tuaku dan adik-adikku, tapi di sisi lain hati kecilku ingin tetap tinggal di kota tauco ini. Paginya aku menitipkan surat untuk pangeran hatiku lewat adik kelasku. Aku memberanikan diri untuk jujur perasaanku. Ugh.. apakah ini mimpi! Ketika beres acara perpisahan dia bicara kepadaku tentang isi hatinya.
“Ta, selama ini aku juga merasakan hal yang sama kepada kamu tapi aku malu, karena yuang aku lihat darimu hanyalah keambisian mengejar prestasi. Dan aku juga berterimakasih kepada kamu yang telah membuat aku berubah menjadi lebih baik. Kau cinta pertamaku yang membuat hidupku indah. Meski aku akan kehilanganmu dari mataku, tapi mata hati dan pikiranku akan selalu mengingat dan menyimpan senyum indahmu samapi akhir hidupku. Aku yakin cinta yang aku miliki untukmu tidak akan pupus terhalang jarak dan waktu”.
Tasikmalaya, 2010



04.46
AKSARA


0 apresiasi:
Posting Komentar