believe it or not
Suasana di puncak Bogor yang sejuk, mobil melaju mengikuti jalan berliku. Tak mengapa karena dipinggir disuguhi panorama yang indah, bukit-bukit dengan pohon merunduk, burung-burung dengan suara merdu dan embun putih yang marayu.
“Cekit….!!!!” Suara rem mobil berhenti di pertigaan. Keluarlah seorang pria mengenakan kemeja putih dengan celana hitam rapi. Rambutnya dibelah pinggir dan bulu matanya melentik indah. Itu adalah aku, ya ! sengaja aku ke Bogor setelah di wisuda di kampus biru. Nama ku Dzikry, panggil aku Dik.
Bukan buang-buang bensin dari Jakarta tapi entah mengapa setelah acara wisuda di kampus, hatiku mengajak pergi ke sebuah mesjid di puncak Bogor.
Sesampainya di bawah bukit, aku berjalan hendak menaiki bukit untuk menuju mesjid itu
“Jagung anget nya den !” ucap seorang ibu tua penjual jagung.
Aku tersenyum dan….
“Beli dua bi !”
“Suka yach ?” Tanya penjual itu sembari membungkus jagung
“Ehm_gak juga, satu lagi buat Rey” ucapku tanpa sadar.
“dia suka jagung bakar ” tambah Dzikry.
“Pacar yach Den ?” Tanya ibu tua itu
“bukan, dia….dia adalah bintang ku, dia adal…” aku lekas tergugah dengan apa yang aku katakan.
“Maaf, ini bi uang nya !” ucap Dzikry sembari beranjak.
Memang apa yang terucap dari hati kadang kita tak pernah sadar dibuatnya.
Beberapa menit kemudian, aku berada di depan sebuah mesjid, ya! di mesjid Mu’alimien. Sebuah mesjid kecil yang berada di salah satu puncak bukit di Bogor, dengan udara yang bersih aku terduduk di sebuah kursi dari besi. Kursi yang setahun lalu pernah aku duduki. Masih sama, kursi itu ada di depan Mesjid,dikelilingi bunga dan ada kolam ikan kecil disampingnya. Yang berbeda hanya kursi itu sedikit berkarat dan keadaan. Ya ! keadaan yang berbeda membuat hidupku sempat penat dan rapuh, tapi…. Sudahlah !
Ku dudukan tubuhku pada kursi itu, dengan dua buah jagung bakar yang masih berasap. Pandangan mataku tertuju pada sebuah bukit di sebrang bukit yang ku pijaki, di bawah terdapat laju mobil yang berjalan menyusuri liku jalan dan ada mobil ku. Seketika kepalaku tengadah, melihat langit yang biru luas dan sepotong awan putih, mentari tak ada menemaniku, tertutup awan hitam disebelah barat. Hidungku menghirup udara,
“Masih sama” lirih Dzikry, harum itu masih sama, langit itu masih sama dan hati ku masih sama..
Seketika aku menerawang satu tahun silam, saat aku dengan dia duduk bercengkrama di kursi ini,….
“Dik, kamu tau gak ? aku seneng….. banget !!! bisa liat langit, awan, makan jagung dan ada disamping kamu” ucap Reyzha kekasihku
“Bener nich ?! aku juga seneng, tapi jangan GR ! aku seneng karena ada jagung bakar. He..he..” balas Dzikry menggoda Rey.
“Ich !!nyebelin !!! “
Rey memukul lembut Dik dengan kekesalannya. Mereka kejar-kejaran di pekarangan mesjid, ke kolam ikan, ke belakang kursi dan….
“Nah..kena loh !” Dik menarik tangan Rey.
Satu tahun silam itu, masih terbayang dibenak Dik. Dan saat Rey berkata…
“Dik, setelah kamu di wisuda, kamu janji yach mau ngelamar aku !”
“Iya sayang !! aku pasti datang kerumah kamu” ucap Dzikry sembari mengecup kening Rey.
Rasanya takdir akan manis didepan mata, tapi kenyataannya kini setelah satu tahun berganti, Dik duduk sendiri di kursi tempat mereka menaruh janji. Bahkan wisuda pun telah digelar, tapi Dik masih sendiri di hadapan kolam ikan itu, apa yang terjadi ? kemana Reyzha ?
Setetes mutiara jatuh dari mata Dik. Mengenai tangan yang dulu Rey genggam. Jagung Nampak sudah dingin oleh rindu Dik pada Rey.
“Rey…aku merindumu…” lirih Dik dengan menutup mata. Direbahkannya tubuh Dzikry pada sandaran kursi. Matanya masih menutup dengan kelam bayangan Rey.
Terbayang dibenaknya, senyum Rey, canda Rey yang kini tak bisa Dik lihat. Batu nisan dan tanah coklat telah memisahkan Dik dan Rey.
“Reyyyyyyyyyyyy………….!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Dik beranjak dari kursi. Tubunya berdiri dengan kaki bergetar, tenggorokannya tercengat setelah berteriak.
“Rey…. Aku …aku….aku cinta kamu Rey …kenapa kamu pergi ??!!! kenapa ???!!!!”
Rasa yang tersisa hanya penyesalan karena Rey pergi saat Dzikry berada di Bekasi. Saat itu Dik sedang menemui kakaknya. Tanpa Dik tau Rey kecelakaan dan meninggal ditempat. Sampai pulang, Dik tak pernah melihat wajah Reyzha lagi. Padahal reka janji dan mimpi indah telah mereka renda bersama.tapi tak ada yang bisa menahan takdir’Nya.
Dzikry kembali terduduk, dan mencoba berfikir jernih
“Rey aku rindu kamu sayang !! apa..apa kamu masih ingat saat kita duduk bersama di kursi ini ? apa kamu masih ingat dengan jagung bakar itu ? dan..apa kamu ingat janji kita untuk hidup bersama ? saat langit membiru dan udara merasuk ? saat…saat…aku mengecup keningmu, dan..aku kini telah di wisuda, malam ini aku akan kerumahmu, tapi…tapi kenapa kamu meninggalkan ku Rey ? kenapa ? tanpa pamit, tanpa senyum tanpa…akh…Rey…!!!”
Dikendorkannya dasi hitam Dzikry, dia sadar tak sadar telah menempuh hidup tanpa Reyzha. Dik menarik nafas mencoba menenangkan diri, Dimakannya jagung bakar yang sempat dibeli tadi…
“Rey, aku beli dua, ini buat aku dan kamu…kamu kan suka jagung..” ucap Dik sambil terus makan jagung. Pikirannya menerawang seolah Rey ada disampingnya.
Sampai satu jam lebih Dik berada di depan mesjid itu, dia beranjak dan turun kebawah.
Tangga-tangga yang dipijaki mengingatkan pada Rey yang selalu manja kalau manaiki tangga. Rey…rey..rey..hanya rey yang ada dipikiranku. Sampai tiba di dekat mobil, Aku tengadah melihat mesjid di atas bukit, dan….sebuah kursi besi kosong. Lekas aku masuk mobil, dan…….melaju kembali ke Jakarta dengan hati gundah gulana….
“Cekit….!!!!” Suara rem mobil berhenti di pertigaan. Keluarlah seorang pria mengenakan kemeja putih dengan celana hitam rapi. Rambutnya dibelah pinggir dan bulu matanya melentik indah. Itu adalah aku, ya ! sengaja aku ke Bogor setelah di wisuda di kampus biru. Nama ku Dzikry, panggil aku Dik.
Bukan buang-buang bensin dari Jakarta tapi entah mengapa setelah acara wisuda di kampus, hatiku mengajak pergi ke sebuah mesjid di puncak Bogor.
Sesampainya di bawah bukit, aku berjalan hendak menaiki bukit untuk menuju mesjid itu
“Jagung anget nya den !” ucap seorang ibu tua penjual jagung.
Aku tersenyum dan….
“Beli dua bi !”
“Suka yach ?” Tanya penjual itu sembari membungkus jagung
“Ehm_gak juga, satu lagi buat Rey” ucapku tanpa sadar.
“dia suka jagung bakar ” tambah Dzikry.
“Pacar yach Den ?” Tanya ibu tua itu
“bukan, dia….dia adalah bintang ku, dia adal…” aku lekas tergugah dengan apa yang aku katakan.
“Maaf, ini bi uang nya !” ucap Dzikry sembari beranjak.
Memang apa yang terucap dari hati kadang kita tak pernah sadar dibuatnya.
Beberapa menit kemudian, aku berada di depan sebuah mesjid, ya! di mesjid Mu’alimien. Sebuah mesjid kecil yang berada di salah satu puncak bukit di Bogor, dengan udara yang bersih aku terduduk di sebuah kursi dari besi. Kursi yang setahun lalu pernah aku duduki. Masih sama, kursi itu ada di depan Mesjid,dikelilingi bunga dan ada kolam ikan kecil disampingnya. Yang berbeda hanya kursi itu sedikit berkarat dan keadaan. Ya ! keadaan yang berbeda membuat hidupku sempat penat dan rapuh, tapi…. Sudahlah !
Ku dudukan tubuhku pada kursi itu, dengan dua buah jagung bakar yang masih berasap. Pandangan mataku tertuju pada sebuah bukit di sebrang bukit yang ku pijaki, di bawah terdapat laju mobil yang berjalan menyusuri liku jalan dan ada mobil ku. Seketika kepalaku tengadah, melihat langit yang biru luas dan sepotong awan putih, mentari tak ada menemaniku, tertutup awan hitam disebelah barat. Hidungku menghirup udara,
“Masih sama” lirih Dzikry, harum itu masih sama, langit itu masih sama dan hati ku masih sama..
Seketika aku menerawang satu tahun silam, saat aku dengan dia duduk bercengkrama di kursi ini,….
“Dik, kamu tau gak ? aku seneng….. banget !!! bisa liat langit, awan, makan jagung dan ada disamping kamu” ucap Reyzha kekasihku
“Bener nich ?! aku juga seneng, tapi jangan GR ! aku seneng karena ada jagung bakar. He..he..” balas Dzikry menggoda Rey.
“Ich !!nyebelin !!! “
Rey memukul lembut Dik dengan kekesalannya. Mereka kejar-kejaran di pekarangan mesjid, ke kolam ikan, ke belakang kursi dan….
“Nah..kena loh !” Dik menarik tangan Rey.
Satu tahun silam itu, masih terbayang dibenak Dik. Dan saat Rey berkata…
“Dik, setelah kamu di wisuda, kamu janji yach mau ngelamar aku !”
“Iya sayang !! aku pasti datang kerumah kamu” ucap Dzikry sembari mengecup kening Rey.
Rasanya takdir akan manis didepan mata, tapi kenyataannya kini setelah satu tahun berganti, Dik duduk sendiri di kursi tempat mereka menaruh janji. Bahkan wisuda pun telah digelar, tapi Dik masih sendiri di hadapan kolam ikan itu, apa yang terjadi ? kemana Reyzha ?
Setetes mutiara jatuh dari mata Dik. Mengenai tangan yang dulu Rey genggam. Jagung Nampak sudah dingin oleh rindu Dik pada Rey.
“Rey…aku merindumu…” lirih Dik dengan menutup mata. Direbahkannya tubuh Dzikry pada sandaran kursi. Matanya masih menutup dengan kelam bayangan Rey.
Terbayang dibenaknya, senyum Rey, canda Rey yang kini tak bisa Dik lihat. Batu nisan dan tanah coklat telah memisahkan Dik dan Rey.
“Reyyyyyyyyyyyy………….!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Dik beranjak dari kursi. Tubunya berdiri dengan kaki bergetar, tenggorokannya tercengat setelah berteriak.
“Rey…. Aku …aku….aku cinta kamu Rey …kenapa kamu pergi ??!!! kenapa ???!!!!”
Rasa yang tersisa hanya penyesalan karena Rey pergi saat Dzikry berada di Bekasi. Saat itu Dik sedang menemui kakaknya. Tanpa Dik tau Rey kecelakaan dan meninggal ditempat. Sampai pulang, Dik tak pernah melihat wajah Reyzha lagi. Padahal reka janji dan mimpi indah telah mereka renda bersama.tapi tak ada yang bisa menahan takdir’Nya.
Dzikry kembali terduduk, dan mencoba berfikir jernih
“Rey aku rindu kamu sayang !! apa..apa kamu masih ingat saat kita duduk bersama di kursi ini ? apa kamu masih ingat dengan jagung bakar itu ? dan..apa kamu ingat janji kita untuk hidup bersama ? saat langit membiru dan udara merasuk ? saat…saat…aku mengecup keningmu, dan..aku kini telah di wisuda, malam ini aku akan kerumahmu, tapi…tapi kenapa kamu meninggalkan ku Rey ? kenapa ? tanpa pamit, tanpa senyum tanpa…akh…Rey…!!!”
Dikendorkannya dasi hitam Dzikry, dia sadar tak sadar telah menempuh hidup tanpa Reyzha. Dik menarik nafas mencoba menenangkan diri, Dimakannya jagung bakar yang sempat dibeli tadi…
“Rey, aku beli dua, ini buat aku dan kamu…kamu kan suka jagung..” ucap Dik sambil terus makan jagung. Pikirannya menerawang seolah Rey ada disampingnya.
Sampai satu jam lebih Dik berada di depan mesjid itu, dia beranjak dan turun kebawah.
Tangga-tangga yang dipijaki mengingatkan pada Rey yang selalu manja kalau manaiki tangga. Rey…rey..rey..hanya rey yang ada dipikiranku. Sampai tiba di dekat mobil, Aku tengadah melihat mesjid di atas bukit, dan….sebuah kursi besi kosong. Lekas aku masuk mobil, dan…….melaju kembali ke Jakarta dengan hati gundah gulana….



04.53
AKSARA


0 apresiasi:
Posting Komentar