29 Juni 2010

cinta tanpa asesoris

tidak perlu alunan indah
tidak perlu kepalsuan seni
sudah membuatku merinding
hanya butuh ketulusan
hanya butuh keikhlasan
Terimakasih ku
untuk pahlawan tanpa tanda jasa
Mereka tak berbaju baja
tak berdalih di bawah angka
Mereka hanya berselendang juang
Untuk bangsa penuh cinta ilahi
menuju negara adi daya


siapkan diri menuju pahlawan tanpa asesoris
Menebar cinta tanpa asesoris.

27 Juni 2010

MUMAS DAN DIANGKATNYA AKSARA

Moment besar yang dilaksanakan pada 26-27 Juni 2010,yang diadakan di Kampus UPI tercinta, yaitu MUSYAWARAH MAHASISWA yang ke XX. Dengan tema "", berlangsung cukup lama dan melelahkan.

Namun dibalik itu semua moment besar ini, menjadi moment besar dan tak terlupakan juga untuk AKSARA. mengapa demikian? karena di moment ini AKSARA lahir menjadi UKM, setelah perjuangan, perdebatan yang alot, dan ketegangan di tengah malam, akhirnya AKSARA ditetapkan dari BSO menjadi UKM. Rasa syukur dan bahagia yang kami rasakan. Dan semoga hal ini dapat membuat AKSARA bisa lebih memperlihatkan eksistensinya baik di dalam maupun di luar UPI KAMPUS TASIKMALAYA. Dan terimakasih pun kami ucapkan pada seluruh peserta MUMAS ke XX, yang telah ikut memperjuangkan dan mendukung AKSARA untuk menjadi UKM.

KETUKAN

Malam jum'at yang dingin, dan lembab ternyata tidak menyurutkan para pecinta seni dan budaya untuk beranjak dari tempat bernaungnya ke GEDUNG KESENIAN TASIKMALAYA, untuk menyaksikan pertunjukan TEATER LANJONG MELANCONG ( Kalimanatan ), yang memperindah suasana malam itu dengan pentas musikalisasi puisi berjudul KETUKAN. Opening yang memukau pun membuat semua penonton berdecak kagum dan memberikan aplous yang meriah. Alunan merdu di iringin musik-musik pengiring indah.
 Lagu-lagu yang dibawakan kebnyakan merupakan karya AB Asmarandana yang juga merupakan sutradara pementasan. Para pemain merupaka anak-anak asuh yang diwadahi dalam komunitas TEATER LANJONG, tiga artis kalimantan ini bermain ditemani 1 artis lokal Asmansyah Timutiah. Diakhir pementasan diadakan diskusi yang dimoderatori oleh Bode Riswandi, menghadirkan AB Asmarandana, Acep Zam Zam Noer, Dewinta, sebagai penjawab. Pertanyaan pun bermunculan dari pengapresiasi sastra, ada pula yang mengajukan penrnyataan, kritik dan saran.
Pementasan pun berakhir setelah semua pertanyaan dapat dijawab oleh ketiga orang tersebut, dan semoga saja apa yang telah ditampilkan dapat menjadi motor untuk menghidupkan kembali semangat berkarya seni.






( foto dan dokumentasi oleh : Edi Martoyo )

2 Juni 2010

SEMU

Aku seorang yang tak bernah berharap
Pada kerlipnya bintang
Pada silaunya mentari
Juga pada keindahan malam

Semua terasa semu
Karena aku hanya seorang
Yang tak pernah punya mimpi tuk berharap


Kau ku pandang
Hanya sebatas bayang semu
Karna aku bidadari tak bersayap
Yang tak mungkin terbang
Tuk menggapai cintamu

Bila bersamamu
Hanya mimpi di langit ketujuh

Semu........
Kau kuharap menjadi nyata
Yang dapat kucintai










AKU RINDU MEREKA

Aku terus menghitung
Meski otak tak kuat mencipta memori senyata mungkin
Aku terus mengingat
Meski nalar tak peka ingat kelokan sungai kehidupan
Aku terus menahan
Meski mata tak kuasa ingin gerimis

Bersama mereka, tidaklah lagi berarti deret geometri
Jika hendak menghitung tanjakan di tiap kelokan sungai kehidupan
Si Belanda, si Arab, si Jepun
Pantat Bayi, Bidadari Terminal, si Burung Cantik
Entah suara bilang wek-wek atau grup gila
Aku rindu mereka

SAYAT

Di hadapan cermin
bayanganku memantul
kutatap wajahku
sebuah goresan luka bersembunyi
di samping kiri
hidungku
sebuah luka yang pernah buatku menangis
ketika ku bocah
kutakut bila ada yang tanyakan luka apa ini
Apa yang harus kujawab
Apakah terus terang
Aku tak mau orang tuaku disalahkan
Ataukah berdusta saja
Aku tak tega mengatakan orang tuaku kucing

TIDAK MENARIK

Ini tidak menarik
Lalat berkerumun mengepel jalanan aspal
Mereka keringatan, lalu minum air mineral
Lalu, melaju ngebut di jalan motor si babi gila
Nabrak lalat hingga tewas, lalu lalat dimakamkan di gereja
Si babi gila gembira sorak sorai sambil memanah matahari
Lalu hitam padam semua
Tak ada lagi yang bisa dibaca

KALIYUGA

Hung!
Pancajanya menggaung
meramai dalam kabut listrik
Apa guna semua

Dosa hasrat membunuh
Mati menari di medan peperangan
"Binasalah para Asura!" umpat mereka
Namun kebijaksanaan yang perlaya
Hung!

Mohini berhenti berbunga
Dosa berbunga semerbak darah pandita
Asura gembira memanah mentari
Hidup usai mencabut nyawa kebijaksanaan
Lebih baik daripada mengemis bagi mereka
Oh amarah dan dusta meraja
Tiap nyawa tak mau hidup di sini
Nyawa mati, lalu Sukracarya hidupkan lagi

Hung!
Pancajanya mengaum
"Tak bisa lagi kalian mundur!" serunya
Kaliyuga mengalir dalam kala
Bergaung bunyinya
Hung! Hung!

Kapan?

Sinar mentari pagi
Menembus gentng kukuh legam mega
Sisa-sisa air mata langit malam itu
Memberikan secerah harap pada hari
Tentang senyuman manis langit pagi
Teriringi lagu merdu para pipit
Dengan melodi kibasan angin pada beringin

Namun hanya kelam pada sepasang mata
Pun hanya sunyi pada sepasang telinga
Tak ada cahaya...
Tak ada lagu...
Tak ada melodi...
Yang ada hanya tanya hati
Kapan aku akan melihat cahaya?
Kapn aku kan mendengar melodi?
Kapan??!
Terlalu lama aku singgahi dunia
Namun aku tak pernah mengenalnya.

Tetap disini


Hari ini...
Aku enggan bermimpi dalam jagaku...
Atau mungkin terjaga saat bermimpi...
Aku ingin tetap disini
Geplindung dalam belasan sutra bunda
Menggapai kunci-kunci surga
Yang terlahir dari gerak bibirnya
Meski kadang aku membuat goresa hitam
Sungguh...
Aku selalu berusaha untuk menghapusnya
Namun, apakah daya
Sekali lagi aku buat ia kecewa
Kristal – kristal yang tak pernah ingin kulihat
Kini menghiasi rautnya
Yang meski ia sembunyikan
Namun kutahu ia kelelahan

Aku ingin tetap disini
Kumemohon pada sang pemimpin waktu
Untuk biarkan aku diam disini
Tapi ternyata...
Ia tak pernah terhenti satu mikro detikpun
Terus menyeretku untuk tetap menjadi budaknya
Patuhi segala inginnya...
Mencambuk rinduku...
Merobek – robek asaku...
Membunuh inginku..
Aku ingin tetap disini....
Meski akhirnya kutinggalkan ruangku
Bersama bunda
Dengan sesalku
Yang melebihi himpunan bintang gemintang

Aku mengerti

Aku menangis
Saat tersayat pisau
Yang kau tau tak boleh ku sentuh

Aku merintih
Saat tertusuk duri
Yang ku tau tak boleh ku injak

Aku menjerit
Saat tersengat ubur – ubur
Yang ku tau tak boleh ku dekati

Namun...
Pisau itu terlalu berkilau
Duri itu terlalu menarik, dan
Ubur – ubur itu teramat cantik

Aku sentuh ia, aku pijak, aku dekati...

Saat kusadar pisau
Pisau itu tak untuk memotong tanganku....
Aku mengerti

Saat ku sadar
Duri itu tak untuk ku injak
Aku mengerti
Saat ku sadar
Ubur – ubur itu tak untuk ku dekati
Aku mengerti...
Bahwa aku tak mungkin bersamanya.




Mereka

Aku benci
Mulut manis mereka
Tertutup cadar sutra terbalut salju
Lontar – lontar bualan nan bualan
Terdengar telinga hati
Aku muak mereka
Selalu memandang kaca mata tuanya
Bahkan menabur sentuhan suara
Ataupun laku
Kepalanya hanya tuk satu hunian
Sebuah pandangan sepintas
Cukup tuk ucap cinta
Terhadap kami
Sang pejuang eman sipasi

Bulan Rindu bintang-Bintang

Tuhan
Bulan rindu bintang-bintang
Yang kini jauh
Terpisah ruang waktu dilangit
Terhalang jalan sepanjangnya
Pepohonan hijau
Tuhan, Bulan rindu bintang-bintang
Mereka tersenyum terang
Bersama dahulu
Tenang dan terang
Reduppun dalam ikatan
Ya tuhan...
Pinta sang bulan
Selalu satukan kami
Di galaxi hidup-mu

Untuk Malaikat ku

Telapak kaki ini telah diambang jurang
Bukan...
Bukan jurang
Jangan sampai sebuah jurang
Tapi...
Telaga Kedewasaan
Remaja dengan sebuah kebanggaannya
Harus kutinggalkan
Aku punya cahaya matahari yang harus kugapai
Cahaya Terindah untuk malaikatku
Walau hingga langit tak mendengar
Tak kan menyamai cahaya mu untuk ku
Wahai Rabbi...
Wahai Rabbi...
Wahai Rabbi..
Pintaku...
Izinkan tangan ini..Membuat kedua malaikatku
Bernapas ditanah suci
Dengan Ridho mu.

Pelukan terindah

Sang pemilik marcusuar menggema
Menggetarkan seluruh pelosok nusantara
Menciutkan hati peminjam hati
Pencakar langit dibuat nunduk tak berdaya
Janjimu telah kutepati...
Kala itu...
Setiap insan ingin merasakan pelukanmu
Setiap jiwa-jiwa bernafas melukis bibirnya dengan indah
Lukisan dzikir pesona tak berdaya.
Masa berganti...Aku lupa...
Dia lupa...
Kita lupa..
Engkau lupa..?
Lupa, betapa indah pelukan itu.
Dimana isi kepalamu saat ini...?
Dimana bibir terindah kala itu...?
Peringatanmu indah
Mengingatmu suatu keindahan
Semoga engkau selalu memeluk kami dengan indah

Kota Idaman, 29 Februari 2008

Hiks.....Hiks......Hiks....

Aku menangis
Tapi tak berair mata ,
Terbawa angin-angin kering malam itu

Aku bicara...
Tapi tak terucap,
Terbelenggu gulungan kertas bersama tulisan-tulisan usang......

Aku tersenyum....
Tapi hati nyata merintih
Terseret sapuan angin dingin
Di bawah sinar bintang

Tuhan, inkah rencana-Mu ?
Aku relakan ini terjadi padaku
Terkoyak...
Dalam sasara kesedihan.....

MANG BECA

Caangna panonpoe jeung hiliwir angin
Anu nyusup kana awak ....
Ukur jadi batur nalangsa diri
Jauh ti dulur....jauh ti kulawarga

Lain hayang lain angan...
Ngan teu bisa nolak kaayaan
Hirup ripuh neang kadaharan
Pikeun nutupan hanaang

Hirup ripuh kapaksa
Teu boga iuhan jeung rajakaya
Ngan usaha sagala polah
Nepika kesang jadi balad....

Teu paduli awak ruksak
Teu paduli kacape nalaktak
Nu penting beuteung teu ngagoak......

JOK BELAKANG

Siang beranjak pergi,
Aku sendiri...
Diantara kursi-kursi kosong

Diantara lampu-lampu temaram
Diantara asap-asap rokok...
Aku disaksikan agungnya kuasa-Mu
Menerawang lewati kaca jendela

Hamparan sawah menguning menemani perjalananku
Dari jok belakang aku tertegun ragu
Kulirik sebuah pandangan....tersenyum ,
Sosok yang aku kenali, dari bisik-bisik puisi

Ternyata, hanya khayalan.....
Yang hilang terbawa asap rokok penumpang
Aku sendiri ....kawan
Temani aku......

DIA DAN KEINGINAN

Dia menangis sebasah gerimis hari kamis
Ia menderita seakan tak ada berita dari kota
Dirinya berselimut gelap berbantal sunyi
Dia bermimpi tentang nikmatnya secangkir susu hangat
Dia berkeinginan menyelami lautan senyum
Dia berbisik pada telinga waktu
Oh waktu....kembalikan aku ke tempat asalku
Hapus semua jejak kehidupanku di sini
Bebaskan aku dari penjara dingin tak bertepi
Dia mencaci pada siang ruang
Dia menghujat sang angin semilir
Dia menunutut keadilan pada mentari pagi


Apa daya semua pergi menghilang .....

Semua meninggalkan dia di batas akhir kegelapan
Semua mencampakkannya di dalam kesunyian abadi
Hanya satu keinginan dia saat ini....
Berharap ada cinta menghampiri
Mengajanya bermain mengalunkan simfoni
Membawanya mereguk kenikmatan
Secangkir kehangatan

Kota Resik, 3 November 2009

BUNGA TIDUR

Dikeheningan malam
Diantara taburan bunga-bunga tidur
Di sudut tatapan nanar pemimpi
Kutemukan setitik penerangan
Kudapati kau tengah menangis di himpit sepi
Kau yang terus meronta di bawah ketiak sunya
Kau yang meratap di balik jeruji sendiri
Rupanya kau yang selama ini ku cari
Rupanya kaulah sebelah hatiku yang hilang
Rupanya kaulah cahaya hati yang sempat padam

Kulabuhkan perahu cintaku di dermaga hatimu
Ku sandarkan kakiku yang penuh luka menganga
Ku pasrahkan hidupku hanya untukmu seorang
Ku harap kaulah yang bisa menabur bunga cinta
Di tanah gersang hatiku.
Ku harap kaulah yang ku cari
Semoga.....
Semoga....







 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys