DI BALIK JENDELA ITU DIA MEMANDANG
Hari-hariku kini tak seindah dulu. Semenjak aku pindah ke rumah baru ini aku merasa sedikit risih dengan lingkunganya. Entah kenapa aku merasa ada yang hilang dalam jiwaku. Aku dilahirkan di daerah pedesaan yang lingkungannya sejuk, tentram, asri, dan damai. 15 tahun sudah aku tinggal bersama orang-orang di desa yang aku cintai. Tapi karena ayahku di pindah tugaskan di perkotaan kami sekeluarga terpaksa harus ikut ke kota.Satu minggu sudah kami tinggal di rumah ini. Minggu depan aku mulai menginjakkan kakiku di bangku Sekolah Menengah Atas. Aku masih belum tahu terlalu banyak tentang lingkungan baruku ini. Hampir setiap sore aku diajak jalan-jalan oleh ayahku untuk mengenal daerah ini. Aku fikir lebih nyaman tinggal di desa daripada di kota. Kalau ada warga baru di desa biasanya kami selalu mengajak mereka mengenal daerah kami dan kami sesama tetangganya selalu mengunjungi rumahnya agar mereka tidak merasa kesepian dan betah tinggal di daerah kami. Tapi kalau disini berbeda, para tetangga seolah acuh tak acuh dengan kami. Bahkan tetangga depan rumah kami saja kami tidak mengetahui siapa saja penguhinya.Hari ini aku mulai masuk sekolah. Karena ini adalah hari pertama, aku di antar oleh ayahku ke sekolah. Setelah daftar ulang dan mendapatkan kelas aku mulai berkenalan dengan teman sekelasku.
“hei, aku Nina, kamu siapa?”
“hei, aku Rani, kamu dari SMP mana?”
“aku dari SMP Tarakan Nusa, kamu?”
“Tarakan Nusa? Daerah mana tu? Aku baru denger”
“daerah Bojong Nusa”
“owh , kamu bukan asli orang sini?”
“iya, aku baru pindahan 2 minggu yang lalu dari daerahku”
“rumahmu yang sekarang dimana?”
“Damri”
“wah masa? Rumahku juga disana, ayahmu polisi juga?”
“iya, rumah kamu sebelah mana?”
“aku blok B no 4, kamu?”
“aku blok C no 5”
“wah rumah kita deketan ya? tadi kamu berangkat dianter siapa”
“aku dianter ayah aku, kamu?”
“aku di anter ibu, ayahku lagi dinas keluar kota, nanti kita pulang bareng ya”
“ok”
Hari pertama sekolah aku sangat menikmatinya. Banyak teman baru yang ku temui disini, salah satunya Rani. Rani begitu baik padaku. Dia banyak bercerita tentang kota baruku ini. Ternyata Rani adalah anak tunggal dan dia sangat di manja oleh kedua orang tuanya, terutama ayahnya.
Karena hari ini adalah hari pertama sekolah, kami hanya perkenalan saja. Besok kami sudah mulai belajar efektif. Akupun pulang dengan teman baruku, Rani.
Cuaca di sore hari terasa begitu sejuk, akupun membuka jendela kamarku yang mulai berdebu karena sudah lama tak dibersihkan oleh si empunya. Debu terasa begitu menyesakkan dadaku. Akupun membersihkan jendela itu dengan peralatan seadanya. Aku memang belum pernah membersihkannya semenjak aku pindah ke rumah ini.
Di balik jendela seberang sana aku melihat ada sesosok laki-laki yang memandangiku dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dia lihat. Tapi dia melihatku dan isi kamarku dibalik jendela kamarnya. “Laki-laki itu cakep juga”, fikirku. Akupun memandanginya dengan perasaan heran dan penuh tanda tanya.
“Nina,,,!!!”
Ibu memanggilku dan segera aku menghampirinya.
“ya bu”
“bantu ibu masak buat makan malam ya”
“kenapa gak nyuruh kak Lastri aja bu, Nina kan gak bisa masak”
“kamu kaya yang gak tau kerjaan kakak kamu itu aja, tiap hari dia kerjaannya cuma ngurusin game aja, padahal umurnya itu udah 23 tahun, masih aja kelakuannya kaya anak SD”
“hmm, gimana ya?”
“gimana apanya? Ayo cepet bantu ibu,,!!!”
“ok deh,,,”
Akupun dengan terpaksa membantu ibu sambil memasak di dapur walaupun sebenarnya aku sanagat malas dengan pekerjaan ini, tapi ya mau gimana lagi? Huft…
Aku teringat dengan lelaki di balik jendela itu, akupun memberanikan diri bertanya pada ibu,
“bu, tetangga depan rumah kita itu kok gak pernah berkunjung ke rumah kita ya bu?”
“entahlah, ibu juga tak tau”
“bu, keluarga itu aneh sekali ya, mereka kaya yang gimana,,,,gitu”
“gimana apanya?”
“ya mereka aneh”
“hus, jangan ngomong sembarangan kamu, entar kalau mereka denger gimana?”
Akupun terdiam. Tapi aku masih tetap penasaran dengan lelaki yang memandangiku tadi. Aku merasa dia itu sangat aneh.
Pagi harinya aku bertemu dengan Rani ketika hendak berangkat sekolah. Hari ini aku berangkat sendiri. Aku bercerita tentang lelaki yang kemarin sore terus memadangiku dengan aneh itu. Rani tak bicara apa-apa tentang hal itu, dia hanya tersenyum mendengar ceritaku. Aku merasa ada yang aneh, tapi apa?entahlah, aku tak mau lagi memikirkan lelaki aneh yang memandangiku itu.
Seusai pulang sekolah aku aku langsung merebahkan tubuhku di kamar. Hari ini terasa begitu melelahkan, tapi sanagat mengasyikan juga. Hari pertama aku belajar memakai baju putih abu, sungguh luar biasa.
Akupun tertidur dengan pulasnya. Saat ku terbangun, aku membukakan jendela kamarku agar udara sore yang sejuk dapat memasukai kamarku. Saat ku buka jendela, aku melihat lagi pemuda itu memandangi kamarku. Aku melihat kebelakang takut-takut ada yang aneh di kamarku. Aku mencoba tersenyum padanya, tapi dia tak membalas, dia hanya berpaling dan menutup jendelanya dengan cukup keras. Dia memang aneh.
Kejadian itu berulang hampir setiap sore hari. Disaat aku membuka jendela di sore hari, pasti saja aku melihat ada dia di balik jendela kamarnya memandang ke jendela kamarku. Aku merasa semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
Pada suatu ketika, aku bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sedang belanja keperluan dapurnya di warung sebelah. Akupun menghampirinya seraya memberanikan diri bertanya padanya.
“selamat pagi bu”
“pagi, ada apa ya?”
“perkenalkan bu, saya penghuni baru disini, rumah kita tetanggaan tapi kita kok sama-sama belum saling mengenal ya bu?”
Ibu itu terasa terganggu oleh kedatangan saya, diapun mnejawab dengan cueknya,
“owh, kamu pengisi rumah kumuh itu ya? bilang saja sama orang tuamu kalau punya anaka gadis jangan keganjenan gitu”
“maksud ibu?”
“emm, ah sudahlah itu bukan urusan kamu, cepat kamu pergi!!”
“iya bu maaf saya sudah mengganggu ibu”
Di sore harinya aku meliahat kejadian yang sama. Seorang lelaki di balik jendela itu memandang kamarku. Tapi entah mengapa kali ini dia tersenyum padaku. Akupun membalas kembali senyumnya.
Aku menceritakan semua kejadian kemarin kepada Rani, tentang respon ibu-ibu yang membentakku dan menyuruhku pulang, serta laki-laki yang di balik jendela yang tersenyum padaku.
Rani masih tetap pada pendiriannya. Dia tak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah yang menurut saya “aneh” itu. Akhirnya dengan sedikit paksaan Rani mau berbicara padaku.
“Nina,baiklah kalau kamu mau tahu aku akan menceritakan semuanya padamu”
Aku diam sejenak sambil menunggu apa yang selanjutnya akan di katakan oleh Rani.
“lelaki itu namanya kak Edo, dulu kak Edo banyak disukai orang, selain dia cakep, jago maen basket, dia juga supel, pokoknya T.O.P.B.G.T dech, banyak banget cewek yang suka ama dia, tapi entah kenapa dia itu suka sama kak Risma yang sebenernya dia tuh bisa di bilang gak selevel ama kak Edo”
Rani diam sejenak sambil menghela nafas panjang.
“terus kenapa kak Edo jadi kayak gitu?”
“aku jadi ngeri ceritanya”
Rani sepertinya tak sanggup lagi untuk bercerita. Tapi aku semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Rani, ayo donk cerita,,!!!”
“keluarga kak Edo gak setuju kalo kak Edo nikah sama kak Risma karena mereka tuh gak selevel, makanya mereka kawin lari dan kabur dari rumah. Di tengah perjalanan mereka kecelakaan dan kak Risma meninggal di tempat dengan mengenakann gaun pengantinnya, sementara waktu itu kak Edo masih bisa di selamatkan tetapi mentalnya tergantu, mungkin karena ia masih shok istrinya meninggal di hari pernikahan mereka”
Aku terdiam sesaat mendengar apa yang baru saja Rani katakan padaku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau lelaki itu secara tidak langsung telah “membunuh” istrinya di hari pernikahan mereka.
“terus apa hubungannya dia ngeliatin kamar aku terus?”
“kamar kak Risma itu kamar kamu sekarang Nin, karena ortu mereka gak setuju dengan hubungan mereka makanya tiap sore mereka selalu ketemuan dibalik jendela kamar mereka dan saling melempar surat, cuma itu sih yang aku tahu dari temen deketnya kak Edo Nin”
“hmm, jadi itu alasannya kenapa dia suka ngeliatin kamar aku terus tiap sore, terus kenapa keluarganya kak Risma pindah rumah?”
“ya mungkin karena mereka gak mau berlarut-larut dalam kesedihan karena tiap hari harus ketemu kak Edo dan orang tuanya”
“iya juga sich, duh aku jadi takut nih Ran tidur di kamar itu lagi”
“kenapa mesti takut?toh kamu gak ada hubungan apa-apa sama mereka, ya kan?”
Bener juga sich apa yang dikatakan sama rani, tapi akhirnya aku puas karena sudah tak ada lagi yang ditutup-tutupi dan sekarang aku telah tau semuanya.



04.58
AKSARA


0 apresiasi:
Posting Komentar