1 Desember 2010

CRPN_PAA Resti Budiarti_Ierest Rerest JM

PELANGI
Malam telah larut. Aku baru saja menutup buku kumpulan soal-soal SNMPTN. Menyelesaikan soal-soal fisika yang menurutku, luar biasa rumitnya. Ku basuh muka kantukku dengan sucinya air wudhu. Menggelar sajadah cinta, bermunajat pada Yang Maha Rahim. Meminta semua yang terbaik.
“GAGAL”
Aku tak percaya. Ku baca lagi dengan lebih cermat, mencari nama “Zahra Zulfikar” di daftar nama siswa yang diterima PMDK di IPB. Namun tetap tidak muncul juga. Kecewa memang, tapi ku coba untuk tegar. Mungkin bukan saatnya.
Kegagalanku harus ku jadikan cambukan. Itu tekadku. Semakin rajin belajar, les, dan latihan soal-soal. Bagiku, kedokteran hewan adalah impian terindah. Dan aku pun tahu, tak segampang membalikkan tangan untuk mencapainya. Aku yakin, akan indah pada waktunya.
Ujian Masuk seminggu lagi, 2 hari setelah Ujian Nasional. Semakin giat aku belajar, semakin keras otakku dilatih. Memantapkan untuk Ujian Nasional dan menyiapkan untuk test UM. Berharap kali ini aku lolos. Tak lupa intensitasku bermunajat pada-Nya kian diperbanyak.
Ujian Nasional baru saja selesai. Rasanya lega, beban sedikit berkurang. Saatnya fokus untuk menyiapkan seleksi masuk IPB. Dengan langkah ringan, aku bergegas menuju tempat les bersama sahabatku, Viona, yang juga berenca masuk IPB, Statistika.
“Na.. Awas !!” Aku menyingkirkan Viona yang hampir saja tertabrak Mobil di sebrang sekolah. Tapi malah aku yang terserempet, tak sempat menghindar.
Tangan dan kakiku luka-luka dan berdarah. Tanganku kaku, tak bisa bergerak dan tak sadarkan diri. Aku segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat oleh Viona dan Gilang serta mobil yang menyerempetku. Viona dengan cepat menghubungi kedua orang tuaku.
Aku mengalami Dislokasi Elbow Joint. Lengan kananku susah digerakkan. Terbentur dasbor mobil yang melaju kencang. Seminggu, aku menginap di Rumah Putih. Ya, Rumah Sakit yang segalanya putih. Aku tak bisa mengikuti UM IPB karena hal ini. Ini kekecewaanku yang kedua kalinya. Kecewa memang. Tangispun kembali membuncah. Tapi Viona dan Gilang menyemangatiku, agar aku tetap semangat melakukan terapi dan pengobatan lainnya untuk mempercepat proses penyembuhan. Semua biaya pengobatanku hingga aku sembuh nanti ditanggung Bapak Saman, yang menyerempetku. Dia tak lain adalah ayahnya Gilang.
Setiap sore, Viona dan Gilang membawakanku materi dan soal-soal yang dipelajari di tempat les. Walaupun mereka telah diterima di IPB dan ITB, mereka tetap les untuk menggantikanku. Memang, tanganku masih sakit jika bergerak. Tapi semangatku tak kan terpatahkan. Dengan tangan kiri, aku memegang pena walaupun tulisan yang ku goreskan tak jauh seperti cakar ayam. Untung saja otakku tidak kehilangan semua memory-nya.
SNMPTN adalah jalan terakhirku untuk mendapatkan tiket masuk IPB. Dan itu hanya 2 minggu lagi. Tangan kananku masih kaku, meskipun gips telah dibuka seminggu yang lalu. Tangis tak terbendung lagi, mengeluarkan mutiara beningnya. Aku ingin berteriak sejadi-jadinya.
H-1 SNMPTN
02.02 angka yang tertera di jam digital kamarku. Beranjak dari meja tulisku, membasuh wajah dengan sucinya air wudhu. Hanya Alloh-lah yang bisa menolongku. Kembali menangis sejadi-jadinya, mencurahkan segala kegundahan hati kepada sang pemilik dunia ini. Dan ku tutup munajatku dengan 3 raka’at Witir.
Akhirnya kantuk pun datang bercampur lelah setelah sehari semalam belajar menghitamkan jawaban dengan tangan kiri. Terlelap diatas sajadah cinta sang Khaliq hingga duha menyapa.
“Astagfirulloh.. sudah pagi. Saya belum shalat subuh.” Teriakku saat cahaya matahari menyelinap lewat jendela kamar.
Bergegas mengambil air wudhu dan shalat subuh walaupun terlambat. Biarlah terlambat daripada tidak, prinsipku. Ku ambil kitab suci al-qur’an diatas meja.
“Subhanalloh.. tangan kananku sembuh seperti sediakala. Kini aku bisa membawa barang dengan tangan kanan.” Aku berteriak menghampiri Bunda dan menunjukkan tangan kananku yang sembuh. Bunda pun mengucurkan air mata kebahagiaannya.
Malam ini kurasa semuanya telah siap. Istirahat yang cukup adalah persiapan terakhir dan relaksasi untuk menghadapi SNMPTN besok. Dengan senyuman, aku tertidur lelap.
Sebelum subuh aku terbangun, makan sahur dan shalat malam. Tak lupa berdoa untuk kelancaran test nanti. Tak menyentuh buku sedikitpun menjelang hari H itulah prinsipku. Kini aku pun terus membaca Al-Qur’an hingga mentari muncul dan bersiap-siap menuju lokasi test.
“S1-Kedokteran Hewan IPB _ TIDAK DITERIMA
“S1-Ilmu Gizi IPB _ DITERIMA”
Danau air mata mengeluarkan mutiaranya. Ketiga kalinya aku gagal dan kecewa. Tapi akupun tidak boleh kufur, masuk Ilmu Gizi pun harus aku syukuri. “Mungkin ini yang terbaik untukku.”ucapku dalam hati mengobati kekecewaan.
Ku coba test terakhir, yaitu USM STAN. Setelah kekecewaan yang lalu, aku tidak ingin berharap banyak. Masuk ya syukur Alhamdulillah, kalaupun tidak masuk, ya ga papa. Ujian ini bak undian menurutku, biar tak ada kekecewaan lagi. Karena saingan ku pasti akan lebih banyak lagi dari test-test yang lalu.
“No. 251 _ ZAHRA ZULFIKAR _ D3 AKUTANSI _ SMAN 1 TASIKMALAYA”
Aku hampir tak percaya. STAN yang sangat sangat ketat saingannya dan aku bisa Lolos. Sujud syukurku diiringi tangis bahagia. Menambah kecintaanku pada sang Penyayang. “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal banyak kebaikan didalamnya”. Dan yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya.

0 apresiasi:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys