16 Oktober 2010

Puisi LBPPR GBSI 2010

Antologi Puisi Rendra GBSI 2010



Gerilya


Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling di jalan

Angin tergantung terkecap pahitnya tembakau bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor diketuk gerbang langit dan menyala mentari muda melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah dengan sayur-mayur di punggung melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis dan duka daun wortel

Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya anak janda berambut ombak ditimba air bergantang-gantang disiram atas tubuhnya

Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani berlindung warna malam sendiri masuk kota ingin ikut ngubur ibunya



1955



Aku Tulis Pamplet Ini



Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi Ketidakpastian merajalela. Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki menjadi marabahaya menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. Tidak mengandung perdebatan Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair Aku inginkan merpati pos. Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu. Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ? Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api. Rembulan memberi mimpi pada dendam. Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai  sampah Kegamangan. Kecurigaan. Ketakutan. Kelesuan. Aku tulis pamplet ini karena kawan dan lawan adalah saudara Di dalam alam masih ada cahaya. Matahari yang tenggelam diganti rembulan. Lalu besok pagi pasti terbit kembali. Dan di dalam air lumpur kehidupan, aku melihat bagai terkaca : ternyata kita, toh, manusia !



Pejambon Jakarta 27 April 1978





















SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON     



Inilah sajakku,

seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,

dengan kedua tangan kugendong di belakang,

dan rokok kretek yang padam di mulutku.



Aku memandang zaman.

Aku melihat gambaran ekonomi

di etalase toko yang penuh merk asing,

dan jalan-jalan bobrok antar desa

yang tidak memungkinkan pergaulan.

Aku melihat penggarongan dan pembusukan.

Aku meludah di atas tanah.



Aku berdiri di muka kantor polisi.

Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.

Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.

Dan sebatang jalan panjang,

punuh debu,

penuh kucing-kucing liar,

penuh anak-anak berkudis,

penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.



Aku berjalan menempuh matahari,

menyusuri jalan sejarah pembangunan,

yang kotor dan penuh penipuan.

Aku mendengar orang berkata :

"Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.

Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,

kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.

Mengatasi kemiskinan

meminta pengorbanan sedikit hak asasi"

Astaga, tahi kerbo apa ini !



Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?

Di negeri ini hak asasi dikurangi,

justru untuk membela yang mapan dan kaya.

Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,

dibikin tak berdaya.



O, kepalsuan yang diberhalakan,

berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.



Aku mendengar bising kendaraan.

Aku mendengar pengadilan sandiwara.

Aku mendengar warta berita.

Ada gerilya kota merajalela di Eropa.

Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,

seorang yang gigih, melawan buruh,

telah diculik dan dibunuh,

oleh golongan orang-orang yang marah.



Aku menatap senjakala di pelabuhan.

Kakiku ngilu,

dan rokok di mulutku padam lagi.

Aku melihat darah di langit.

Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang.

Yang kuasa serba menekan.

Yang marah mulai mengeluarkan senjata.

Bajingan dilawan secara bajingan.

Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.

Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,

maka bajingan jalanan yang akan diadili.

Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?

Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?

Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?

Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?

Apakah kata nurani kemanusiaan ?



O, Senjakala yang menyala !

Singkat tapi menggetarkan hati !

Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !



O, gambaran-gambaran yang fana !

Kerna langit di badan yang tidak berhawa,

dan langit di luar dilabur bias senjakala,

maka nurani dibius tipudaya.

Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !

Yang capek tapi belum menyerah pada mati.

Kini aku berdiri di perempatan jalan.

Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.

Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.

Sebagai seorang manusia.



Pejambon, 23 Oktober 1977



SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA



Matahari terbit pagi ini

mencium bau kencing orok di kaki langit,

melihat kali coklat menjalar ke lautan,

dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.



Lalu kini ia dua penggalah tingginya.

Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini

memeriksa keadaan.



Kita bertanya :

Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.

Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.

Orang berkata “ Kami ada maksud baik “

Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”



Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina

Ada yang bersenjata, ada yang terluka.

Ada yang duduk, ada yang diduduki.

Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.

Dan kita di sini bertanya :

“Maksud baik saudara untuk siapa ?

Saudara berdiri di pihak yang mana ?”



Kenapa maksud baik dilakukan

tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.

Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.

Perkebunan yang luas

hanya menguntungkan segolongan kecil saja.

Alat-alat kemajuan yang diimpor

tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.



Tentu kita bertanya :

“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”



Sekarang matahari, semakin tinggi.

Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.

Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :

Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini

akan menjadi alat pembebasan,

ataukah alat penindasan ?



Sebentar lagi matahari akan tenggelam.

Malam akan tiba.

Cicak-cicak berbunyi di tembok.

Dan rembulan akan berlayar.

Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.

Akan hidup di dalam bermimpi.

Akan tumbuh di kebon belakang.



Dan esok hari

matahari akan terbit kembali.

Sementara hari baru menjelma.

Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.

Atau masuk ke sungai

menjadi ombak di samodra.



Di bawah matahari ini kita bertanya :

Ada yang menangis, ada yang mendera.

Ada yang habis, ada yang mengikis.

Dan maksud baik kita

berdiri di pihak yang mana !



Jakarta 1 Desember 1977



LAGU SERDADU



Kami masuk serdadu dan dapat senapang

ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang

Yoho, darah kami campur arak!

Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak



Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali

Wahai, tanah yang baik untuk mati

Dan kalau ku telentang dengan pelor timah

cukilah ia bagi puteraku di rumah



Nopember 1959

Sastra Kampus dan Begitulah Bandung

Sastra Kampus dan Begitulah Bandung

Oleh : Langgeng Prima Anggradinata

Disajikan di diskusi “Sastra Kampus” dalam kegiatan Fokus Sastra 2010 “Kreativitas di Ruang Kolektif”

Kehadiran institusi formal (baca : perguruan tinggi atau kampus) yang secara khusus mengajarkan ilmu-ilmu sastra memiliki peran penting bagi sastra itu sendiri. Banyak sastrawan lahir dari kampus. Hal tersebut bukan sebuah keistimewaan sebenarnya. Wajar saja bila banyak sastrawan lahir daei lingkungan ilmiah tersebut. Sebab lingkungan kampus sangat mendukung utnuk mengembangkan disiplin ilmu secara teoritif maupun aplikatif.
Kampus merupakan ruang tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan (khususnya sastra). Sudarmoko mengatakan dalam esainya yang berjudul Kritik Sastra, Kiritikus sejati, dan Latar Belakangnya bahwa kajian akademik karya sastra Indonesia sudah dimulai sejak dibukanya institusi pendidikan seperti sekolah tinggi sastra dan budaya (FSUI) tahun 1929, juga Fakultas Sastra UGM tahun 1950. Artinya kampus memang telah menjadi suatu ruang berdialektika ilmu sastra sejak dulu. Pembentukan atmosfer sastra dibentuk oleh kampus itu sendiri sebab disanalah ruang kreatif dan ruang intelektual berdialektika dan disanalah sastra kembali ke radic-nya, yaitu sebuah disiplin ilmu yang mapan.
Kampus sebagai penaung intelektual-intelektual sastra merupakan fasilitator. Kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan diri secara keilmuan sangat terbuka. Tak dapat dimungkiri bila kampus berperan terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ratusan kritik sastra akademis lahir tiap semesternya bahkan tiap caturwulan dalam bentuk karya ilmiah atau skripsi yang disajikan secara terfokus, teoretis, spesifik, dan terstruktur. Hal tersebut sebenarnya meruntuhkan anggapan bahwa kritik sastra Indonesia mati suri. Hal itu diamini juga oleh Sapardi Djoko Damono. Namun pada hakekatnya, kritik sastra memiliki fungsi untuk membuka atau menjembatani pembaca dengan karya sastra. Karya ilmiah atau skripsi belum demikian adanya, belum publikatif. Sehingga terkesan onani dan sangat ekslusif.


Sastra Kampus dan Kondisi Objektif
Dengan berlandaskan pendekatan Matrealisme-Dialektika-Historis Karl Marx, ekonomi tetap menjadi basis yang kemudian berimplikasi pada ranah pendidikan, sosial, politik, budaya, dan lain-lain. Hegemoni kapitalis terhadap Indonesia berpengaruh terhadap sastra sebagai bagian dari budaya.
Di institusi formal sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah mau tak mau masuk dalam sistem yang menghegemoni bangsa ini. Sastra dinilai sebagai ilmu yang low profile, ilmu yang memiliki nilai ekonomi rendah dan rendah hati. Sastra dipaksa mengalah oleh ilmu-ilmu lain, semisal Sains dan teknologi yang diduga memiliki nilai ekonomi dan tingkat derajat yang lebih meyakinkan. Kondisi ini diperparah oleh paradigm a masyarakat yang menganggap sastra kalah adiluhung dengan ilmu sains dan teknologi. Atau mungkin saja virus Platoisme (meminjam istilah dari Eva D. Kurniawan) merasuk ke dalam mindset masyarakat kita yang berpandangan sama dengan Plato tentang fungsi konkret sebuah ilmu. Hal inilah yang membuat sastra nyaris terpisah dari kehidupan masyarakat. Seperti yang dikatakan Budi Darma, bahwa sastra terlanjur dianggap sepotong dunia yang tidak berintegrasi dengan realitas. Sastra adalah anomali? Padahal sastra merupakan representasi dari realitas kehidupan.
Kondisi tersebut semakin menempatkan sastra pada posisi terhimpit. Padahal, kehadiran institusi yang secara khusus mengajarkan ilmu-ilmu sastra memiliki peran yang sangat penting bagi sastra itu sendiri. Namun, seberapa jauh peran kampus dalam mendorong sastra keluar dari posisi sulit ini. Berbicara kampus atau institusi sastra, tentu akan berbicara banyak hal, dari mulai pengajaran yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa, dukungan lembaga, kemudian mahasiswa itu sendiri yang dianggap serius berkecimpung dalam dunia sastra, dan lain sebagainya.
Sastra hari ini ter-subordinasi di tengah hegemoni budaya popular yang merebak di kalangan masyarakat. Kondisi objektif ini tak lahir tanpa rahim. Arus informasi dan komunikasi yang begitu massif menyuguhkan budaya konsumerisme merupakan salah satu penyebabnya.
Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat kelas borjuasi kecil merupakan salah satu subaltern dari kondisi ini. Kemudian hal tersebut berimplikasi pada kehidupan mahasiswa yang hidup dalam institusi akademik. Umumnya, intelektualitas mahasiswa berakhir di kelas perkuliahan yang tak lebih dari dua puluh dua SKS per-minggu, itu pun tidak menjamin materi yang diberikan dipahami. Artinya, dialektika dengan ilmu pengetahuan yang digelutinya terbatas dan atau dibatasi oleh dirinya. Dibatasi karena benturan hegemoni budaya popular yang terus menderunya. Sementara ruang perkuliahan yang juga terbatas membuat khazanah pengetahuan mahasiswa terbatas pula. Barangkali hal itu yang menyebabkan sastra sebagai ilmu pengetahuan yang juga ikut berdialektika di institusi formal keberadaannya semakin menyisip.
Dosen yang dianggap kafah dalam ilmu sastra nyatanya tidak cukup mendorong mahasiswanya untuk juga kafah dalam mengimani ilmu sastra. Pemberian teori dalam konteks perkuliahan tak cukup. Dialektika di luar ruang formal menjadi lebih penting dalam hal ini. Namun belakangan, dialektika sastra (apresiasi sastra) di ruang non-formal hanya sekedar perayaan belaka. Esensi kelimuan kadang-kadang lenyap begitu saja. Akhirnya sastra menjadi sekedar perayaan , kemudian mahasiswa kurang berapresiasi selanjutnya malah terjebak dalam ruang hedonism. Mahasiswa (khususnya mahasiswa sastra) sebagai borjuasi kecil yang notabene dalam posisi bimbang akhirnya benar-benar bimbang. Mereka terjebak dalam pelbagai pilihan sulit : Pertama, kafah bersastra dengan ancaman mereka harus menempuh jalan sepi dan penuh keterasingan; Kedua, menjadi hedonis atau glamourenisti sejati.
Bandung dan Sastra Kampus
Bandung hari ini masih menjaga tradisi sastra. Mahasiwa yang berada dalam institusi formal masih menunjukkan geliatnya. Hal tersebut tak lepas dari peran komunitas-komunitas yang terdapat di Bandung, baik komunitas dalam kampus maupun non-kampus. Satu sama lain masih saling menyokong meski secara visi berbeda.
Misalnya, ITB (dulu) dengan GAS-nya (Gabungan Apresiasi Sastra) kemudian buabar dan kini diganti menjadi Lingkar Sastra ITB yang Nampak terfokus dengan pengapresiasian terhadap karya sastra. ITB cukup menarik. Ia tidak memiliki Fakultas atau Jurusan Sastra tetapi memiliki komunitas yang bergerak dalam bidang sastra. Artinya, ada daya eksogen yang mendukung kehidupan sastra di ITB. Daya eksogen tersebut adalah Komunitas Gerbong Bawah Tanah yang mengambil basic seni, termasuk sastra.
Selain ITB, ada beberapa kampus yang memiliki Fakultas Sastra dan komunitas sastra. Diantaranya Unpad dengan komunitas Langkah-nya. Kemudian UPI dengan ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra). Ada pula perguruan tinggi yang tidak memiliki Fakultas Sastra juga tidak memiliki komunitas utuh dalam kampusnya. Misalnya UIN Bandung, Unisba, dan STSI. Namun ketiga kampus ini memiliki gairah bersastra yang cukup kuat. Umumnya, mahasiswa yang ingin bergiat dalam bidang sastra ikut dalam komunitas-komunitas luar kampus. Artinya, ada simbiosis antara kampus dan non-kampus.
Para mahasiwa yang bergelut dengan sastra memiliki karya (cerpen dan puisi) yang beragam. Berbagai tema coba dieksplorasi. Kebanyakan karya (puisi) penggiat sastra kampus masuk dalam kategori puisi lirik, puisi-puisi tersebut termuat di Koran maupun antologi Ziarah Kata (MSB,2010). Misalnya pada puisi Zulkifli Songyanan penggiat sastra kampus di UPI yang berjudul “Sepenggal Duka”.



Sepenggal Duka
;Ryani Sylvia

Ingin kubasuh semua dukamu dengan pusisi paling basah
Sebab dari isyarat yang kau kekalkan di mataku
Aku temukan ribuan jarum menghujam pada garis tanganmu
Dan waktu seolah mematahkan sebuah silsilah di situ.

Nyi, naikkan bendera setengah tiang dan lupakan karangan bunga
Di sana, ibumu tak akan rela sekiranya gerimis
Yang berjatuhan di hatimu belum juga reda.

2008.
(“Sepenggal Duka”, Ziarah Kata: 2010)

Namun puisi yang bersifat realis-sosial masih tetap ada dengan jumlah yang tak sedikit. Puisi-puisi yang bersifat realis-sosial banyak  mengangkat tema urban, misalnya, dalam antologi puisi Di Atas Viaduct (Kiblat, 2009). Misalnya pada puisi Beni R. Budiman yang berjudul “Braga Naripan” yang ditulis saat beliau masih berkuliah di IKIP Bandung.

Braga Naripan

Dan merayaplah malam bersamaku
Sepanjang jalan Braga dan Naripan
Angin menepi menyisir pertokoan
Dan terbenam bersembunyi di satu kedai

Di mana aku menegak cahaya bulan dan bintang
Yang menghilang ke dalam gelas kopiku

Sesekali terdengar tawa-tawa kecil
Sesekali tercium bau anyir darah,
Sesekali tertusuk harum parfume
Tapi Braga dan Naripan tetap diam
Semedi bersama jiwa yang menyepi !

(“Braga Naripan”,Sumber I Rubrik “Pertemuan ” H.U Pikiran Rakyat, Sumber II Di Atas Viaduct, Kiblat:2009)

Artinya kedekatan antara realitas social dan ruang pribadi masih melekat pada penggiat sastra, mahasiswa dan masyarakat. Seperti apa yang dikatakan Anton Kurnia dalam esainya Komunitas Sastra Kampus dan Mereka Yang Melawan bahwa sastrawan yang baik adalah saksi zaman dan masyarakatnya. Bagaimana realitas yang disampaikan melalui karya sastra dan nyatanya penggiat sastra kampus masih membuka mata dan mempertahankan idealismenya.
Secara kualitas (saya berani bertaruh) karya penggiat sastra kampus nyaris setara dengan sastrawan yang telah malang melintang. Tinggal keseriusan dan kekonsistenanlah yang berbicara untuk kemudian menjadikan mereka besar di mata sastra Indonesia.
Kedekatan realitas sosial dengan karya sastra sudah tak terelakan. Kemudian bagaimana dengan kedekatan sastra dengan pergerakan mahasiswa? Hampir di setiap aksi massa yang dilakukan mahasiswa terdapat pembacaan puisi oleh aktivis dan atau penggiat sastra kampus. Bahkan beberapa grup band Good Bye Lenin (band asal Unisba) menyisipkan puisi dalam lagunya yang bertemakan perjuangan. Hal tersebut membuktikan bahwa sastra memiliki kedekatan dengan pergerakan mahasiswa dan mahasiswa itu sendiri namun masih dengan pelbagai keterbasannya (kalangan terbatas).
Sulit memang menilai apresiasi masyarakat terhadap sastra. Kita harus melakukan peneletian sosiologi sastra yang cukup kompleks. Namun, dari kondisi objektif di atas setidaknya kita dapat meraba bagaimana apresiasi masyarakat terhadap sastra yang masih paradigmatis.
Memasyarakatkan sastra merupakan isu strategis yang melulu disuarakan dan dilakukan para penggiat sastra pada hakekatnya, yaitu suatu ilmu pengetahuan yang setara dengan ilmu-ilmu lain merupakan keniscayaan, apabila kita serius dan terus berdialektika dengan ilmu sastra itu sendiri. Begitulah Bandung dan Sastra Kampus.***

13 Oktober 2010

ASA

Oleh Ades Rienasaha · 07 Oktober 2010
saatnya belajar mandiri
tak bisa terus meminjam sayap untuk terbang
kaki untuk melangkah,,juga hati untuk merasa
karna dia tak selamanya akan bebas
berhembus seperti angin
tapi, dia akan berlabuh di dermaga harapannya
menanti mentari,,suatu saat nanti
dan ketika saat itu tiba
ku berharap,,asaku sudah bisa berjalan sendiri..

fokus sastra.



9-10 juli lalu Aksara menjadi salah satu peserta acara yang dilaksanakan oleh ASAS  Bandung. Acara yang berjudul FOKUS SASTRA ini di ikuti oleh sastrawan –sastrawan nasional.
Pembukaan dilaksanakan secara sederhana di kampus Bumi Siliwangi, tepatnya di gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa ), setelah pembukaan semua peserta FOKUS SASTRA dilanjutkan ke balatkop, lembang , Bandung. Balatkop tersebut menjadi tempat bernaung dan tempat para peserta disuguhi materi sastra.

Materi yang disuguhkan tentu saja berkisar tentang sastra, awal-awal materi membeberkan tentang sastra kampus, meluas ke sastra Bandung, hingga akhirnya bahasan sampai ke sastra postcolonial dan atau sastra pasca colonial. Pemateri yang didatangkan dari berbagai element ada mahasiswa, dosen, dan tentunya pecinta budaya dan sastra.
Apa itu sastra pasca colonial? Dan apa sebenarnya postcolonial itu sendiri? Pertanyaan ini sempat menjadi pemanas debat malam di lembang yang dingin. Dari smeua pertanyaan itu masih belum didapat kesimpulan.
FOKUS SASTRA ini juga bertujuan untuk lounching antologi mengenang wan anwar.
Siapa itu wan anwar?

Secara singkat wan anwar merupakan  sastrawan sekaligus dosen sastra di beberapa perguruan tinggi, beliau juga merupakan pendiri asas.
Antologi yang berjudul berjalan ke utara merupakan  sekumpulan puisi yang ditujukan untuk mengenang wan anwar. Puisi –puisi hasil seleksi dari 169 penyair disaring dan hanya diambil 70 puisi dari 70 penulis, dan 2 dari 70 penyair tersbut adalah neti avney ( ketum aksara) dan nero taufik a. ( dewan penasehat aksara).
Hari terakhir, para pesrta diajak berwisata ke sebuah museum di jalan braga, yaitu museum KAA
Banyak sekali ilmu yang di dapat selama 3 hari di bandung, menambah banyak link dengan para penyair se nusantara, juga bertambahnya ilmu tentang kesusastraan,

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys