Sastra Kampus dan Begitulah Bandung
Oleh : Langgeng Prima Anggradinata
Disajikan di diskusi “Sastra Kampus” dalam kegiatan Fokus Sastra 2010 “Kreativitas di Ruang Kolektif”
Kehadiran institusi formal (baca : perguruan tinggi atau kampus) yang secara khusus mengajarkan ilmu-ilmu sastra memiliki peran penting bagi sastra itu sendiri. Banyak sastrawan lahir dari kampus. Hal tersebut bukan sebuah keistimewaan sebenarnya. Wajar saja bila banyak sastrawan lahir daei lingkungan ilmiah tersebut. Sebab lingkungan kampus sangat mendukung utnuk mengembangkan disiplin ilmu secara teoritif maupun aplikatif.
Kampus merupakan ruang tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan (khususnya sastra). Sudarmoko mengatakan dalam esainya yang berjudul Kritik Sastra, Kiritikus sejati, dan Latar Belakangnya bahwa kajian akademik karya sastra Indonesia sudah dimulai sejak dibukanya institusi pendidikan seperti sekolah tinggi sastra dan budaya (FSUI) tahun 1929, juga Fakultas Sastra UGM tahun 1950. Artinya kampus memang telah menjadi suatu ruang berdialektika ilmu sastra sejak dulu. Pembentukan atmosfer sastra dibentuk oleh kampus itu sendiri sebab disanalah ruang kreatif dan ruang intelektual berdialektika dan disanalah sastra kembali ke radic-nya, yaitu sebuah disiplin ilmu yang mapan.
Kampus sebagai penaung intelektual-intelektual sastra merupakan fasilitator. Kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan diri secara keilmuan sangat terbuka. Tak dapat dimungkiri bila kampus berperan terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ratusan kritik sastra akademis lahir tiap semesternya bahkan tiap caturwulan dalam bentuk karya ilmiah atau skripsi yang disajikan secara terfokus, teoretis, spesifik, dan terstruktur. Hal tersebut sebenarnya meruntuhkan anggapan bahwa kritik sastra Indonesia mati suri. Hal itu diamini juga oleh Sapardi Djoko Damono. Namun pada hakekatnya, kritik sastra memiliki fungsi untuk membuka atau menjembatani pembaca dengan karya sastra. Karya ilmiah atau skripsi belum demikian adanya, belum publikatif. Sehingga terkesan onani dan sangat ekslusif.
Sastra Kampus dan Kondisi Objektif
Dengan berlandaskan pendekatan Matrealisme-Dialektika-Historis Karl Marx, ekonomi tetap menjadi basis yang kemudian berimplikasi pada ranah pendidikan, sosial, politik, budaya, dan lain-lain. Hegemoni kapitalis terhadap Indonesia berpengaruh terhadap sastra sebagai bagian dari budaya.
Di institusi formal sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah mau tak mau masuk dalam sistem yang menghegemoni bangsa ini. Sastra dinilai sebagai ilmu yang low profile, ilmu yang memiliki nilai ekonomi rendah dan rendah hati. Sastra dipaksa mengalah oleh ilmu-ilmu lain, semisal Sains dan teknologi yang diduga memiliki nilai ekonomi dan tingkat derajat yang lebih meyakinkan. Kondisi ini diperparah oleh paradigm a masyarakat yang menganggap sastra kalah adiluhung dengan ilmu sains dan teknologi. Atau mungkin saja virus Platoisme (meminjam istilah dari Eva D. Kurniawan) merasuk ke dalam mindset masyarakat kita yang berpandangan sama dengan Plato tentang fungsi konkret sebuah ilmu. Hal inilah yang membuat sastra nyaris terpisah dari kehidupan masyarakat. Seperti yang dikatakan Budi Darma, bahwa sastra terlanjur dianggap sepotong dunia yang tidak berintegrasi dengan realitas. Sastra adalah anomali? Padahal sastra merupakan representasi dari realitas kehidupan.
Kondisi tersebut semakin menempatkan sastra pada posisi terhimpit. Padahal, kehadiran institusi yang secara khusus mengajarkan ilmu-ilmu sastra memiliki peran yang sangat penting bagi sastra itu sendiri. Namun, seberapa jauh peran kampus dalam mendorong sastra keluar dari posisi sulit ini. Berbicara kampus atau institusi sastra, tentu akan berbicara banyak hal, dari mulai pengajaran yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa, dukungan lembaga, kemudian mahasiswa itu sendiri yang dianggap serius berkecimpung dalam dunia sastra, dan lain sebagainya.
Sastra hari ini ter-subordinasi di tengah hegemoni budaya popular yang merebak di kalangan masyarakat. Kondisi objektif ini tak lahir tanpa rahim. Arus informasi dan komunikasi yang begitu massif menyuguhkan budaya konsumerisme merupakan salah satu penyebabnya.
Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat kelas borjuasi kecil merupakan salah satu subaltern dari kondisi ini. Kemudian hal tersebut berimplikasi pada kehidupan mahasiswa yang hidup dalam institusi akademik. Umumnya, intelektualitas mahasiswa berakhir di kelas perkuliahan yang tak lebih dari dua puluh dua SKS per-minggu, itu pun tidak menjamin materi yang diberikan dipahami. Artinya, dialektika dengan ilmu pengetahuan yang digelutinya terbatas dan atau dibatasi oleh dirinya. Dibatasi karena benturan hegemoni budaya popular yang terus menderunya. Sementara ruang perkuliahan yang juga terbatas membuat khazanah pengetahuan mahasiswa terbatas pula. Barangkali hal itu yang menyebabkan sastra sebagai ilmu pengetahuan yang juga ikut berdialektika di institusi formal keberadaannya semakin menyisip.
Dosen yang dianggap kafah dalam ilmu sastra nyatanya tidak cukup mendorong mahasiswanya untuk juga kafah dalam mengimani ilmu sastra. Pemberian teori dalam konteks perkuliahan tak cukup. Dialektika di luar ruang formal menjadi lebih penting dalam hal ini. Namun belakangan, dialektika sastra (apresiasi sastra) di ruang non-formal hanya sekedar perayaan belaka. Esensi kelimuan kadang-kadang lenyap begitu saja. Akhirnya sastra menjadi sekedar perayaan , kemudian mahasiswa kurang berapresiasi selanjutnya malah terjebak dalam ruang hedonism. Mahasiswa (khususnya mahasiswa sastra) sebagai borjuasi kecil yang notabene dalam posisi bimbang akhirnya benar-benar bimbang. Mereka terjebak dalam pelbagai pilihan sulit : Pertama, kafah bersastra dengan ancaman mereka harus menempuh jalan sepi dan penuh keterasingan; Kedua, menjadi hedonis atau glamourenisti sejati.
Bandung dan Sastra Kampus
Bandung hari ini masih menjaga tradisi sastra. Mahasiwa yang berada dalam institusi formal masih menunjukkan geliatnya. Hal tersebut tak lepas dari peran komunitas-komunitas yang terdapat di Bandung, baik komunitas dalam kampus maupun non-kampus. Satu sama lain masih saling menyokong meski secara visi berbeda.
Misalnya, ITB (dulu) dengan GAS-nya (Gabungan Apresiasi Sastra) kemudian buabar dan kini diganti menjadi Lingkar Sastra ITB yang Nampak terfokus dengan pengapresiasian terhadap karya sastra. ITB cukup menarik. Ia tidak memiliki Fakultas atau Jurusan Sastra tetapi memiliki komunitas yang bergerak dalam bidang sastra. Artinya, ada daya eksogen yang mendukung kehidupan sastra di ITB. Daya eksogen tersebut adalah Komunitas Gerbong Bawah Tanah yang mengambil basic seni, termasuk sastra.
Selain ITB, ada beberapa kampus yang memiliki Fakultas Sastra dan komunitas sastra. Diantaranya Unpad dengan komunitas Langkah-nya. Kemudian UPI dengan ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra). Ada pula perguruan tinggi yang tidak memiliki Fakultas Sastra juga tidak memiliki komunitas utuh dalam kampusnya. Misalnya UIN Bandung, Unisba, dan STSI. Namun ketiga kampus ini memiliki gairah bersastra yang cukup kuat. Umumnya, mahasiswa yang ingin bergiat dalam bidang sastra ikut dalam komunitas-komunitas luar kampus. Artinya, ada simbiosis antara kampus dan non-kampus.
Para mahasiwa yang bergelut dengan sastra memiliki karya (cerpen dan puisi) yang beragam. Berbagai tema coba dieksplorasi. Kebanyakan karya (puisi) penggiat sastra kampus masuk dalam kategori puisi lirik, puisi-puisi tersebut termuat di Koran maupun antologi Ziarah Kata (MSB,2010). Misalnya pada puisi Zulkifli Songyanan penggiat sastra kampus di UPI yang berjudul “Sepenggal Duka”.
Sepenggal Duka
;Ryani Sylvia
Ingin kubasuh semua dukamu dengan pusisi paling basah
Sebab dari isyarat yang kau kekalkan di mataku
Aku temukan ribuan jarum menghujam pada garis tanganmu
Dan waktu seolah mematahkan sebuah silsilah di situ.
Nyi, naikkan bendera setengah tiang dan lupakan karangan bunga
Di sana, ibumu tak akan rela sekiranya gerimis
Yang berjatuhan di hatimu belum juga reda.
2008.
(“Sepenggal Duka”, Ziarah Kata: 2010)
Namun puisi yang bersifat realis-sosial masih tetap ada dengan jumlah yang tak sedikit. Puisi-puisi yang bersifat realis-sosial banyak mengangkat tema urban, misalnya, dalam antologi puisi Di Atas Viaduct (Kiblat, 2009). Misalnya pada puisi Beni R. Budiman yang berjudul “Braga Naripan” yang ditulis saat beliau masih berkuliah di IKIP Bandung.
Braga Naripan
Dan merayaplah malam bersamaku
Sepanjang jalan Braga dan Naripan
Angin menepi menyisir pertokoan
Dan terbenam bersembunyi di satu kedai
Di mana aku menegak cahaya bulan dan bintang
Yang menghilang ke dalam gelas kopiku
Sesekali terdengar tawa-tawa kecil
Sesekali tercium bau anyir darah,
Sesekali tertusuk harum parfume
Tapi Braga dan Naripan tetap diam
Semedi bersama jiwa yang menyepi !
(“Braga Naripan”,Sumber I Rubrik “Pertemuan ” H.U Pikiran Rakyat, Sumber II Di Atas Viaduct, Kiblat:2009)
Artinya kedekatan antara realitas social dan ruang pribadi masih melekat pada penggiat sastra, mahasiswa dan masyarakat. Seperti apa yang dikatakan Anton Kurnia dalam esainya Komunitas Sastra Kampus dan Mereka Yang Melawan bahwa sastrawan yang baik adalah saksi zaman dan masyarakatnya. Bagaimana realitas yang disampaikan melalui karya sastra dan nyatanya penggiat sastra kampus masih membuka mata dan mempertahankan idealismenya.
Secara kualitas (saya berani bertaruh) karya penggiat sastra kampus nyaris setara dengan sastrawan yang telah malang melintang. Tinggal keseriusan dan kekonsistenanlah yang berbicara untuk kemudian menjadikan mereka besar di mata sastra Indonesia.
Kedekatan realitas sosial dengan karya sastra sudah tak terelakan. Kemudian bagaimana dengan kedekatan sastra dengan pergerakan mahasiswa? Hampir di setiap aksi massa yang dilakukan mahasiswa terdapat pembacaan puisi oleh aktivis dan atau penggiat sastra kampus. Bahkan beberapa grup band Good Bye Lenin (band asal Unisba) menyisipkan puisi dalam lagunya yang bertemakan perjuangan. Hal tersebut membuktikan bahwa sastra memiliki kedekatan dengan pergerakan mahasiswa dan mahasiswa itu sendiri namun masih dengan pelbagai keterbasannya (kalangan terbatas).
Sulit memang menilai apresiasi masyarakat terhadap sastra. Kita harus melakukan peneletian sosiologi sastra yang cukup kompleks. Namun, dari kondisi objektif di atas setidaknya kita dapat meraba bagaimana apresiasi masyarakat terhadap sastra yang masih paradigmatis.
Memasyarakatkan sastra merupakan isu strategis yang melulu disuarakan dan dilakukan para penggiat sastra pada hakekatnya, yaitu suatu ilmu pengetahuan yang setara dengan ilmu-ilmu lain merupakan keniscayaan, apabila kita serius dan terus berdialektika dengan ilmu sastra itu sendiri. Begitulah Bandung dan Sastra Kampus.***



02.09
AKSARA


0 apresiasi:
Posting Komentar