13 Oktober 2010

fokus sastra.



9-10 juli lalu Aksara menjadi salah satu peserta acara yang dilaksanakan oleh ASAS  Bandung. Acara yang berjudul FOKUS SASTRA ini di ikuti oleh sastrawan –sastrawan nasional.
Pembukaan dilaksanakan secara sederhana di kampus Bumi Siliwangi, tepatnya di gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa ), setelah pembukaan semua peserta FOKUS SASTRA dilanjutkan ke balatkop, lembang , Bandung. Balatkop tersebut menjadi tempat bernaung dan tempat para peserta disuguhi materi sastra.

Materi yang disuguhkan tentu saja berkisar tentang sastra, awal-awal materi membeberkan tentang sastra kampus, meluas ke sastra Bandung, hingga akhirnya bahasan sampai ke sastra postcolonial dan atau sastra pasca colonial. Pemateri yang didatangkan dari berbagai element ada mahasiswa, dosen, dan tentunya pecinta budaya dan sastra.
Apa itu sastra pasca colonial? Dan apa sebenarnya postcolonial itu sendiri? Pertanyaan ini sempat menjadi pemanas debat malam di lembang yang dingin. Dari smeua pertanyaan itu masih belum didapat kesimpulan.
FOKUS SASTRA ini juga bertujuan untuk lounching antologi mengenang wan anwar.
Siapa itu wan anwar?

Secara singkat wan anwar merupakan  sastrawan sekaligus dosen sastra di beberapa perguruan tinggi, beliau juga merupakan pendiri asas.
Antologi yang berjudul berjalan ke utara merupakan  sekumpulan puisi yang ditujukan untuk mengenang wan anwar. Puisi –puisi hasil seleksi dari 169 penyair disaring dan hanya diambil 70 puisi dari 70 penulis, dan 2 dari 70 penyair tersbut adalah neti avney ( ketum aksara) dan nero taufik a. ( dewan penasehat aksara).
Hari terakhir, para pesrta diajak berwisata ke sebuah museum di jalan braga, yaitu museum KAA
Banyak sekali ilmu yang di dapat selama 3 hari di bandung, menambah banyak link dengan para penyair se nusantara, juga bertambahnya ilmu tentang kesusastraan,

0 apresiasi:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys