5 April 2010

ANTOLOGI LBPSSD/Sederajat Se-Priangan Timur AKSARA UPI KAMPUS TASIKMALAYA 2010

PUISI BABAK PENYISIHAN
Soni Farid Maulana

TUSUK GIGI

Ada suara hutan menjerit
Dari sebuah tusuk gigi di hadapanku
Tanah berumput keong lumpur yang mati
Melayangkan kenanganku
Akan berbagai suku yang tumpur digilas industri

Cacing-cacing menyuburkan pepohonan
Tapi hutan demi hutan lenyap sudah
Dengus gergaji kiranya
Bikin beragam hewan mengungsi
Ke dalam buku catatan biologi
Atau ke dalam buku cerita kanak-kanak
Yang dibaca sambil tiduran

1987



Abdul Hadi W. M.

TUHAN, KITA BEGITU DEKAT

Tuhan.
Kita begitu dekat.
Sebagai api dengan panas.
Aku panas dalam apimu.

Tuhan.
Kita begitu dekat.
Seperti kain dengan kapas.
Aku kapas dalam kainmu.

Tuhan.
Kita begitu dekat.
Seperti angin dan arahnya.

Kita begitu dekat.

Dalam gelap
kini aku nyala
pada lampu padammu.

1976


Sugiarta Sriwibawa

SEKOLAH

Sekolah di tepi sungai
Anak-anak mencari bayangan
Asal dan arah yang mengalir

Sekolah di tepi sungai
Berpikir perahu
Bermimpi laut

Sekolah di tepi sungai
Guru menolong melukis tamasya
Anak-anak tekun memberi warna



D. Zawawi Imron

SUNGAI KECIL

sungai kecil, sungai kecil! di manakah engkau telah kulihat?
antara cirebon dan purwokerto ataukah hanya dalam mimpi?
di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku di tepimu daun-
daun bergoyang menaburkan sesuatu yang kuminta dalam
doaku
sungai kecil, sungai kecil! terangkanlah kepadaku, di manakah
negeri asalmu?
di atasmu akan kupasang jembatan bambu agar para petani
mudah melintasimu dan akan kubersihkan lubukmu agar
para perampok yang mandi merasakan juga sejuk airmu
sungai kecil, sungai kecil! mengalirlah terus ke rongga jantungku
dan kalau kau payah, istirahatlah ke dalam tidurku! kau yang
jelita kutembangkan buat kasihku.

1980








Tan Lioe Ie

DUKA BATU-BATU

Tangan yang mengelupas kulit pasir
Jangan cabik serat dagingku
Belum cukup merah darahku untuk pewarna daun
Belum sampai putih tulangku untuk penyubur tanah.

Kabut selimut bukit tersapu angin
Kumbang kekasih bunga
jatuh ke bumi. Bagaimana duka batu-batu.

Kau yang menggenggam siang dan malam
Lupakan luka laku yang memupus lidahku
Dengarkan gugat gaguku: Biar
kusuarakan duka batu-batu dalam sajakku.








Piek Ardjianto Soeprijadi

KUTILANG

burung kutilang di cabang nangkasabrang
kicaunya nyaring menebari muka ladang
kicaunya nyaring menyambut pagi datang
kicaunya nyaring mengantar hari petang

burung kutilang mematuki nangkasabrang masak
betapa girang terbang menggelepar sejenak
anak-anak mengintai dari balik belukar
bila tertangkap dipiara dalam sangkar

kicau kutilang pagi hari
melecuti hati petani
memperbanyak hasil bumi

kicau kutilang petang hari
mengusapi hati petani
berlepas lelah di desa sepi




PUISI BABAK FINAL
Ali Hasjmy

PETANG HARI

Di kaki langit kemerah-merahan,
Bercelup kesumba sepuhan petang,
Alam bermandi sinar-sinaran,
Aneka rona permai dipandang

Di sana sini unggas bernyanyi,
Mengucap selamat mentari hilang,
Di puncak kayu nuri menari
Meninjau syamsu sedang melayang.

Di saat itu duduklah aku,
Bersandar di batang kayu nan rindang,
Di mukaku air mengalir girang

Kupandang ke belakang hatiku sayu,
Tampak kampung melambai-lambai,
Menyeru daku: jangan bercerai!

1936


Asrul Sani

SURAT DARI IBU

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinari daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang,
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!


Saini K. M.

PAK GURU ACIL

Bagai pohon ranggas pada usia dua delapan
Guru Acil tegar berdiri di depan kelas
Dengan sabuknya ia kendalikan perut lapar
yang sudah menggerutu pada pukul sebelas

”Anak-anak, buka mata dan lihat dunia!” serunya
pada para siswa yang berjajar duduk
di kelas berlantai dan beratap ijuk.
”Anak-anak, kuajar kalian menulis masa depanmu.”

Di sudut Indonesia yang tak terlukis dalam peta
Guru Acil membariskan siswanya menghadap matahari;
berjalan di tanah berbatu dan bersandung-sandung
bagai tentara ia nyanyikan ”Halo-Halo Bandung”.

1985



Afrizal Malna
DADA
Sehari. Waktu sama sekali tak ada, Dada. Bumi
terbaring dalam tangan yang tidur. Ingin jadi manusia
terbakar dalam mimpi sendiri. Sehari. Semua terbaring
dalam waktu tak ada. Membaca, Dada. Membaca kenapa
harus membaca, bagaimana harus dibaca. Orang-orang
terbaring dalam tubuhnya sendiri, orang-orang terbaring
dalam pikirannya sendiri. Mengaji, Dada. Mengaji.
Keinginan jadi manusia, menulis dan membaca di tangan
sendiri.

Sehari. Waktu tidak menanam apa-apa, Dada. Hanya
hidup, hanya hidup membaca dirinya sendiri; seperti
anak-anak membaca, seperti anak-anak bertanya
Menulis, Dada. Menulis kenapa harus menulis,
bagaimana harus ditulis. Orang-orang menjauh dari
setiap yang bergerak, Dada; seperti menakuti setiap yang
dibaca dan ditulisnya sendiri. Membaca, jadi mengapa
membaca, menulis jadi mengapa menulis.

Sehari. Aku bermimpi aku jadi manusia, Dada. Sehari.
Dada. Sehari.

1983


Pelaksanaan Lomba 9 Mei 2010
Pendaftaran 6 April-6 Mei 2010
CP : Pidi 081324688743

1 apresiasi:

Neti Avney mengatakan...

Salam Aksara!!
AKSARA LAHIR MENGUKIR BAHASA!!
Sukseskan LBPSSD Se-Priangan Timur

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys